“Saya ingin berbuat kebaikan untuk semua, untuk menebarkan kebaikan,” tuturnya.
Meski demikian, Ernawati mengakui dirinya memahami bahwa posisi sebagai pejabat publik memiliki konsekuensi besar.
Ia melihat seorang pemimpin harus menghadapi kritik, demonstrasi, sorotan kebijakan hingga berbagai framing politik.
Karena itu, dirinya masih mempertimbangkan secara matang apabila suatu hari harus masuk ke dunia politik.
“Menjadi pejabat publik hari ini seperti duduk di kursi panas,” katanya.
Ayu bahkan membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan politik apabila sistem pemerintahan dan politik ke depan menjadi lebih baik.
“Kalau sistemnya sudah dirubah mungkin ya,” ujarnya.
Sementara itu, terkait polling di media sosial yang mulai mencantumkan namanya, Ernawati memilih bersikap santai.
Baginya, polling tersebut belum lebih dari sekadar “cek ombak” untuk melihat seberapa besar respons masyarakat.
“Kalau layak jual nanti dipinang. Kalau tidak layak jual ya sudah,” ucapnya sambil bergurau.
Ia menegaskan bahwa program sosial yang selama ini dijalankan tidak boleh bergantung pada apakah dirinya nantinya maju atau tidak dalam politik.
“Jangan sampai kalau kita tidak jadi nyalon akhirnya anak yatim saya terbengkalai. Karena itu program saya, program hidup saya,” tegas .
Dengan demikian, meski namanya mulai muncul dalam percakapan politik Jambi, Ayu masih menempatkan aktivitas sosial dan kemanusiaan sebagai prioritasnya.
Soal Pilkada, ia menyerahkan sepenuhnya kepada proses dan keputusan yang menurutnya merupakan bagian dari qadarullah.(*)
