Perdagangan dan UMKM harus menjadi kekuatan utama dalam menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas. Pasar Angso Duo, Pasar Talang Banjar, kawasan Pasar Jambi, serta berbagai pusat perdagangan bukan sekadar tempat pertukaran barang, melainkan sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Penataannya perlu menjamin kebersihan, keamanan, kelancaran lalu lintas, kepastian ruang pedagang, perlindungan dari kebakaran, dan kenyamanan pembeli. Pelaku UMKM juga membutuhkan akses pembiayaan, pencatatan keuangan, sertifikasi, desain kemasan, pemasaran digital, serta pendampingan yang berkelanjutan. UMKM seharusnya tidak hanya bertahan di tengah pertumbuhan kota, tetapi tumbuh menjadi bagian penting dari rantai pasok perdagangan dan industri.
Kota Jambi memiliki peluang besar mengembangkan ekonomi kreatif yang bertumpu pada generasi muda, budaya, kuliner, dan teknologi. Batik Jambi, makanan tradisional, musik, seni pertunjukan, fotografi, desain, aplikasi digital, serta industri konten dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru. Festival tidak boleh berhenti sebagai perayaan sesaat, tetapi harus dihubungkan dengan pasar, pembinaan usaha, promosi, dan peningkatan kunjungan.
Kawasan Kota Tua, Danau Sipin, tepian Batanghari, dan ruang budaya lainnya dapat dikembangkan sebagai rangkaian pengalaman kota yang menarik. Pariwisata perkotaan akan memberi manfaat lebih besar apabila pengunjung tinggal lebih lama, membeli produk lokal, menikmati kuliner, dan mengenal identitas Jambi.
Sungai Batanghari seharusnya kembali ditempatkan sebagai halaman depan, bukan halaman belakang Kota Jambi. Penataan kawasan tepian sungai perlu menggabungkan pengendalian banjir, ruang publik, wisata, transportasi air, perlindungan sejarah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pembangunan tidak boleh menghilangkan akses publik atau memindahkan masyarakat tanpa pendekatan sosial yang adil.
Sungai yang bersih dan hidup akan memperkuat identitas kota sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi kuliner, transportasi, seni, dan pariwisata. Batanghari tidak hanya menyimpan masa lalu Kota Jambi, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari masa depannya.
Banjir tetap menjadi ujian bagi kualitas tata ruang dan infrastruktur perkotaan. Kolam retensi, drainase, pompa, normalisasi saluran, ruang terbuka hijau, dan pengendalian pembangunan harus dirancang sebagai satu sistem, bukan proyek yang berdiri sendiri.
Pembangunan permukiman dan kawasan komersial yang mengurangi daerah resapan akan memindahkan air serta risiko kepada lingkungan lain. Penanganan banjir juga memerlukan kerja sama dengan daerah sekitar karena aliran air tidak mengenal batas pemerintahan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari panjang saluran yang dibangun, tetapi dari berkurangnya luas, kedalaman, frekuensi, dan lama genangan yang dialami warga.
Sampah merupakan ujian berikutnya bagi visi Kota Jambi sebagai kota yang bersih dan sejahtera. Pengelolaan sampah harus dimulai dari pengurangan dan pemilahan di rumah tangga, pasar, sekolah, restoran, hotel, perkantoran, dan kawasan usaha. Bank sampah, pengomposan, pengolahan bahan daur ulang, pengangkutan terjadwal, serta pengelolaan tempat pemrosesan akhir harus dibangun sebagai sistem yang dapat diukur.
Masyarakat perlu memperoleh fasilitas dan insentif, sedangkan dunia usaha harus bertanggung jawab terhadap kemasan serta limbah yang dihasilkannya. Kota Jambi tidak akan menjadi kota bahagia apabila pertumbuhan konsumsi lebih cepat daripada kemampuannya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Indikator sosial memberikan alasan untuk menghargai kemajuan sekaligus mengingatkan adanya pekerjaan yang belum selesai. Menurut Pemerintah Kota Jambi yang merujuk data BPS, IPM meningkat dari 81,77 pada 2024 menjadi 82,32 pada 2025, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 7,38 menjadi 7,08 persen.
Kemiskinan juga menurun tipis dari 7,73 persen menjadi 7,69 persen, tetapi jumlah penduduk miskin masih berada pada kisaran puluhan ribu orang. Garis kemiskinan Kota Jambi pada 2025 mencapai Rp773.124 per kapita per bulan, tertinggi di antara kabupaten dan kota dalam Provinsi Jambi. Tingginya biaya hidup perkotaan membuat keluarga yang berada sedikit di atas garis kemiskinan tetap rentan terhadap kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, sakit, dan kebutuhan pendidikan.
Pengendalian harga karena itu harus menjadi bagian penting dari kebijakan kesejahteraan perkotaan. Sepanjang semester I 2026, Pemerintah Kota Jambi bersama TPID melaksanakan 15 Gerakan Pangan Murah, 20 operasi pasar atau pasar murah bersubsidi, 12 kegiatan menanam pangan, serta menjaga cadangan sekitar 1 juta kilogram beras. Langkah tersebut membantu menjaga pasokan dan keterjangkauan harga, terutama ketika terjadi gangguan distribusi atau peningkatan permintaan. Namun, operasi pasar bersifat meredakan gejala dan belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan struktural pangan perkotaan. Kerja sama pasokan dengan daerah produsen, pergudangan, informasi harga, distribusi, dan perlindungan daya beli harus terus diperkuat.
Kepemimpinan Wali Kota Maulana dan Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha membawa visi “Kota Jambi Bahagia” sebagai kota perdagangan dan jasa yang bersih, aman, harmonis, agamis, inovatif, dan sejahtera. Visi tersebut cukup lengkap karena menghubungkan ekonomi, lingkungan, tata kelola, kehidupan sosial, inovasi, dan kesejahteraan.
Program Kampung Bahagia juga menawarkan pembangunan berbasis partisipasi yang pada 2026 memasuki tahap kedua dan menjangkau 787 RT setelah tahap pertama dilaksanakan pada 795 RT. Pendekatan berbasis lingkungan dapat memperkuat gotong royong serta mempercepat penanganan infrastruktur kecil yang langsung dibutuhkan warga. Namun, keberhasilan program harus diukur melalui kualitas pekerjaan, pemerataan manfaat, transparansi anggaran, pemeliharaan hasil, dan perubahan kondisi setiap lingkungan.
Kepemimpinan Maulana–Diza telah menunjukkan aktivitas tinggi dalam menggerakkan program, menjalin kerja sama, mengendalikan harga, dan mendatangi masyarakat. Masa pemerintahan yang masih relatif awal juga perlu dinilai secara adil dengan mempertimbangkan keterbatasan fiskal, kondisi birokrasi, dan persoalan perkotaan yang diwarisi. Namun, banyaknya kegiatan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan karena masyarakat membutuhkan hasil yang bertahan lebih lama daripada sebuah acara.
Kunjungan mendekatkan wali kota kepada masyarakat, tetapi kerja nyata dan pemenuhan janji politiklah yang mendekatkan masyarakat kepada kesejahteraan. Warga akan menilai apakah banjir berkurang, sampah terkelola, jalan membaik, pelayanan semakin cepat, pekerjaan bertambah, dan rasa aman semakin kuat.
Pemerintah kota perlu menyediakan papan ukur “Kota Jambi Bahagia” yang dapat dipantau secara terbuka oleh masyarakat. Indikatornya dapat mencakup jumlah titik banjir, lama genangan, sampah yang terpilah, kondisi jalan lingkungan, waktu pelayanan perizinan, UMKM naik kelas, pekerjaan baru, kemiskinan, dan kepuasan warga. Keterbukaan data akan membantu pemerintah memperoleh kepercayaan, sedangkan masyarakat dapat menyampaikan kritik berdasarkan fakta yang dapat diperiksa.
Kritik yang objektif bukan penghalang pembangunan, melainkan mekanisme untuk memastikan program tetap berjalan menuju tujuan. Kota yang inovatif bukan hanya memiliki banyak aplikasi dan program, tetapi berani mengukur apakah semua itu benar-benar menyelesaikan persoalan.
Masa depan Kota Jambi terletak pada kemampuannya memadukan perdagangan, jasa, budaya, teknologi, lingkungan, dan pelayanan publik dalam satu arah pembangunan.
Pusat perdagangan harus tertata, UMKM harus naik kelas, Batanghari harus dihidupkan, banjir harus dikendalikan, dan sampah harus diubah dari beban menjadi sumber daya. Kemajuan kota tidak boleh hanya dinikmati kawasan tertentu, tetapi harus menjangkau kampung, lorong, pasar, dan keluarga yang masih berjuang menghadapi biaya hidup.
Apabila pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat bergerak dalam arah yang sama, Kota Jambi dapat menjadi pusat pertumbuhan yang manusiawi dan berkelanjutan. Ketika Batanghari menyalakan kehidupan kota, cahaya kemajuan itu semestinya sampai ke setiap rumah dan menghadirkan kebahagiaan yang benar-benar dapat dirasakan.(*)
