Berdasarkan pemetaan awal, konsumsi energi terbesar di rumah sakit tersebut berasal dari penggunaan alat pendingin ruangan serta berbagai peralatan kesehatan. Karena itu, ke depan akan didorong penggunaan peralatan yang lebih hemat energi.
“Saat ini juga sudah dipetakan, ternyata energi terbesar berada pada alat pendingin ruangan dan alat-alat kesehatan. Karena itu, ke depan akan dibantu alat-alat yang hemat energi,” katanya.
Selain sektor kesehatan, Maulana memaparkan transformasi transportasi publik di Kota Jambi melalui pengembangan moda transportasi hemat energi berbasis kendaraan listrik.
“Di sini kami sampaikan bahwa program tersebut berdampak terhadap pengurangan emisi sekaligus penghematan biaya,” ungkapnya.
Pemkot Jambi juga memperkenalkan program LAgro Koja yang diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian perkotaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kemudian kami juga menyampaikan program LAgro Koja dalam rangka pemanfaatan lahan tidur untuk meningkatkan ketahanan pangan,” lanjut Maulana.
Pengelolaan Sampah Jadi Bagian Aksi Iklim
Transformasi tata kelola persampahan juga menjadi bagian penting dari komitmen Kota Jambi dalam aksi iklim. Pemkot Jambi terus mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah dari pola terbuka menuju sistem yang lebih tertutup dan terintegrasi melalui Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM).
Pengelolaan sampah tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular.
“Dari tata kelola sampah ini kita mendorong sampah dapat dimanfaatkan menjadi energi. Sampah telah dipilah di depo, selanjutnya residunya dapat dimanfaatkan kembali di TPA,” jelas Maulana.
Maulana berharap berbagai inovasi dan kolaborasi yang telah dikembangkan dapat terus diperkuat sehingga memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Jambi.
“Mudah-mudahan program ini bisa terus dikembangkan dan direplikasi di tempat lain. Kita ingin pembangunan di Kota Jambi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan sosial, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.
Penghargaan The Most Improved City dari WWF menjadi dorongan bagi Kota Jambi untuk terus memperkuat aksi menghadapi perubahan iklim melalui inovasi, kolaborasi, efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta pembangunan rendah emisi yang berkelanjutan.(*)
