<div>
IMPOR: Kurangnya pasokan membuat harga cabai rawit melonjak. Sedangkan, mahalnya harga bawang lokal membuat para pedagang banyak menjual bawang impor yang harganya jauh lebih murah. (Foto: Aldi Saputra)
</div>
IMPOR: Kurangnya pasokan membuat harga cabai rawit melonjak. Sedangkan, mahalnya harga bawang lokal membuat para pedagang banyak menjual bawang impor yang harganya jauh lebih murah. (Foto: Aldi Saputra)
Harga cabai rawit di pasar induk Angso Duo, Jambi, sejak dua pekan terakhir naik dari Rp 21.000/kg menjadi Rp 24.000/kg. Sedangkan, bawang merah yang di pasok dari Pulau Jawa naik dari Rp 18.000/kg menjadi Rp 36.000/kg. Lonjakan harga ini disebabkan oleh tingginya permintaan dan minimnya pasokan.

Ijal (35), salah seorang pedagang di pasar Angso Duo, Rabu (13/3) pagi mengungkapkan, permintaan terhadap cabai rawit dan bawang merah cukup tinggi. Namun, pasokannya minim. Malah, ada yang dikirim ke luar daerah. Selain itu, ada dugaan petani di Pulau Jawa gagal panen, akibat cuaca buruk.

‘’Dua hari ini harga cabai rawit dan bawang naik drastis. Cabai kami pasok dari daerah Curup, Pulau Jawa, dan ada juga dari lokal. Sedangkan, bawang merah kita pasok dari Pulau Jawa. Saat ini kami jual bawang 2 macam yaitu bawang dari Pulau Jawa dan bawang impor. Bawang impor kita jual Rp 25.000. Biasanya kami tak jual bawang impor, tapi mau gimana lagi. Jika kita jual bawang Jawa, pembelinya kurang,’’ ungkap Ijal.

Kurangnya pembeli bawang Jawa tak lain disebabkan oleh harganya lebih mahal ketimbang bawang impor. Rosa (38), salah seorang ibu rumah tangga yang sedang membeli bawang impor, mengatakan harga bawang impor memang lebih murah. ‘’Lebih murah saja,’’ katanya kepada jambiupdate.com.

Melonjaknya harga cabai rawit dan bawang merah cukup merepotkan para ibu rumah tangga, termasuk pemilik rumah makan. Hal ini diakui oleh Ibrahim (40), pemilik rumah makan Padang, Sabana Teraso di Mayang, saat ditemui sedang berbelanja. ‘’Tiap hari saya belanja ke Angso Duo. Cabai rawit hingga 4 kg, sedangkan bawang 3 kg,’’ ujarnya.

Di sisi lain, melonjaknya harga cabai rawit malah membuat para petani cabai merasa senang. Salah seorang petani cabai rawit di KM 37, Bukit Baling, Kec Sekernan, Kab Muarojambi, Siti (30), mengatakan 3 hari sekali dia panen cabai rawit mencapai 15 kg. ‘’Kalau harganya naik, kan petani juga yang diuntungkan. Semoga saja harganya naik terus,’’ sebutnya via ponsel.(*)

Reporter : Aldi Saputra.
Redaktur : Joni Yanto.

TAGS

Komentar

Berita Terkait

SMAIT Al-Azhar Kunjungi Indofood

Soal Mobnas Dewan, Sekwan Enggan Beri Deadline

Kepergok Warga, Dua Pelaku Curanmor Tinggalkan Motornya

Misroni Dikenakan Pasal 406 KUHP

Orang Tua Misroni Juga akan Diperiksa

Hujan Deras, Gado Gado Terendam

Tiang Listrik Nyaris Timpa Rumah Warga

Si Belang Bergerak ke Palembang

Raja Hutan Diburu di Sukadamai

Ibu-ibu Tuntut Kesamaan Gender

Luar Negeri Bantu Bangun Trotoar

Solar Diuber Sopir Mobil

Gubernur Jambi Diminta Bersaksi

Si Belang Muncul Lagi

Tak Mempan Ditembak Bius

3 Harimau Berkeliaran di Pemayung

Lagi, Harimau Makan Korban

Harimau Melintas di Tempino

Warga Bertam Resah

Timsus Lacak Si Belang di Jaluko

Harimau Berkeliaran Karena Galau

Drainase Banyak Tersumbat

Korban Terluka Parah

Pertani Karet Diterkam Harimau

Jembatan Layang Jangan Negatif

Ancol Bau Bangkai

Banjir Berangsur Surut

Jambiupdate.com di Louching

Jembatan Gantung Huruf “S”

Hutan Tanaman Kenali Sepi Pengunjung.

Ojek Rakit Pasang Tarif

Jalan Berlobang Dan Tidak memiliki Drainase

Penumpang Boat Layang Di Tanggo Rajo Ramai

Demo WTC Isapan Jempol

Galang Bantuan di Jalanan

Tanggo Rajo Terendam

Korban Banjir Banyak Sakit

Drainase Tersumbat Pasir

Ke Sekolah Naik Perahu

Ratusan Rumah Terendam

Jalan Patimura Rusak

Pasar Talang Banjar Kumuh

Ayam Potong Ikut Naik

Harga Daging Tembus Rp 90.000

Sesuap Nasi Dari Sampah

Harga Cabai Melonjak

Macet Tiap Hari

Traffic Light Rusak

Pedagang Duku Menjamur

Jembatan Berbak Putus

Mengais Rejeki di Jembatan Aur Duri II

Raup Omzet Puluhan Juta dari Membuat Toko Online

Menengok Peluang Bisnis Angkringan

Wawan, Mengolah Kulit Pari Jadi Produk Bergengsi

Berawal dari Garasi, Kini Roti Teja-Nanik Meraja

Rekomendasi




add images