JAMBIUPDATE.COM, SAROLANGUN - Ada fakta-fakta baru terungkap saat pertemuan antara Kapolda Jambi dengan tomas di tiga kecamatan di Sarolangun.
Salah seorang tokoh masyarakat yang juga Kepala Desa Pelawan Jaya Arifin kepada kapolda menyebutkan menyangkan peritiwa pembakaran itu. Bahkan menurutnya peristiwa pembakaran tersebut akibat simpang siurnya informasi yang beredar.
"Ini sebetulnya terjadi karena kesimpang siuran informasi. Ketika masyarakat menayakan kepada polisi apa penyebabnya kematian korban. Polisi mengatakan penyebabnya kecelakaan," kata Kades Pelawan Jaya Arifin yang juga berasal aslinya dari desa Pulau Aro.
Jika informasi itu tidak simpang siur kata Aripin kepada Kapolda dan saat ditanyakan oleh warga ke polisi dijelaskan yang sebenarnya mungkin tidak terjadi kejadian tersebut.
Akibatnya mosi tidak percaya warga terhadap keterangan yang didapatkan.
"Jika seandainya korban dari awal dijelaskan mati tertembak mungkin stuasinya tidak begini,"tambah Arifin lagi kepada kapolda.
Sementara itu, dari tokoh masyarakat Limun Arsal yang juga kepala Desa pulau pandan juga sangat menyangkan pembakaran tersebut. Hal ini terkait dengan jerih parah warga limun pulau pandan khususnya yang sudah susah payah membangun Polsek pada dulunya dengan swadaya masyarakat."Kami sedih melihat aksi pembakaran. Karena pembangunan maposek limun adalah swadaya masyarakat"terang arsal.
Kesedihan itu muncul setiap kali melintas didepan Mapolsek limun dan melihat sudah menjadi puing-puing. "Setiap kami lewat melihat puing-puing kami sedih pak Kapolda. Pembangunan Mapolsek Limun ini tidak ada dana pemerintah dan murini swadaya kami dan kami minta bisa dibangun kembali," harapnya.
(ded)
