Nanda Miranda. Foto : Ist
Nanda Miranda. Foto : Ist

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Namanya Nanda Miranda. Ia memiliki kepedulian terhadap teman tuli. Bermula dari kegelisahnnya yang kerap menjumpai teman tuli di mall di Kota Jambi, muncul rasa penasaran, sehingga Ia bertekad belajar bahasa isyarat untuk bisa bekomunikasi.

MUHAMMAD HAFIZH ALATAS

MULAI penasaran sejak 2012 silam. Nanda kerap menjumpai teman tuli saat di mall. Dalam hati ada rasa penasaran, melihat orang sekitar yang memperhatikan komunikasi teman tuli.

Beberapa kali melihat ada kelompok teman tuli berkomunikasi di tempat umum, semakin menjadikan Nanda penasaran. Dalam perjalanan waktu, Nanda akhirnya mencoba belajar bahasa isyarat. Melalui youtube Nanda bisa berbahasa isyarat.

Pada 2018 lalu, gadis kelahiran Juli 1997 itu bisa memahami bahasa isyarat. Ia kerap buat video dengan bahasa isyarat dan diposting melalui media sosial instagram pribadinya. Postingan Nanda banyak mendapat respon dari teman tuli dan komunitas teman tuli, tak hanya dari Jambi, juga dari teman tuli luar Jambi.

Diajakin kenalan sama teman tuli, diajak ngumpul komunitas mereka, kata mahasiswi berjilbab itu.

Nanda mengungkapkan, tuli bukan merupakan keterbatasan, namun, suatu kelebihan. Berkomunikasi dengan bahasa isyarat harusnya bukan untuk teman tuli, namun, untuk semua. Nanda tidak ingin teman tuli dibedakan, sehingga Ia menganggap penting harus bisa bahasa isyarat.

Bahsa isyarat itu untuk semua orang. Bukan untuk mereka saja (teman tuli), imbuhnya.

Untuk bisa berbahasa isyarat, Nanda juga mendapat tantangan. Beberapa orang kerap mengejeknya. Kenapa harus belajar behasa isyarat kerena melihat saya sehat.

Ada yang bilang Saya tidak bersyukur, ngapo harus ngomong pakai bahasa isyarat, ujarnya.

Selama ini Nanda melihat banyak diskriminasi terhadap teman tuli. Padahal mereka penyandang keterbatasan juga mampu bersaing di dunia pendidikan dan dunia usaha.

Mahasiswi semester akhir di Universitas Jambi itu, kerap ikut ngumpul bersama komunitas DPC Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gertakin), yang didalamnya berisi teman tuli.

Mereka ekspresif. Seru ngumpul sama mereka, sebut Nanda.

Nanda ingin teman tuli tidak lagi mendapat diskrimasi. Nanda menyebutkan, pemerintah di Jambi masih abai terhadap teman tuli. Pernah suatu waktu teman tuli mengajukan permohonan untuk bantuan kantor Gertakin, namun malah ditolak.

Pemerintah diskriminasi gitu. Dak peduli. Mereka (teman tuli) tu pengen lah ado ruang untuk komunitas tuli, sebutnya.

Para teman tuli, sebut Nanda, juga susah untuk mendapatkan pekerjaan.

Mereka pingin bisa bekerja, menjadi OB juga mereka mau. Mereka mengharapkan pemerintah lebih peduli dan perhatian terhadap teman tuli, ujarnya. (*)


Komentar

Rekomendasi




add images