JAMBIUPDATE.CO, MUARA BUNGO - Harga cabe di Kabupaten Bungo kembali pedas dalam tiga hari terakhir. Kenaikan kali ini terjadi cukup signifikan. Dipasaran, harga yang sebelumnya sekitar Rp 40 ribu, Rabu (3/7) mencapai Rp 100 ribu untuk satu kilo gram
Efi salah toke cabe mengatakan kenaikan ini dikarenakan kurangnya pasokan cabe untuk pasar di wilayah Kabupaten Bungo. Dimana kebutuhan cabe untuk satu harinya sekitar 10 ton, sementar yang ada hanya sekitar 4 ton.
"Kalau masukanya sekitar 10 ton per hari, harga akan stabil. Kalau masuk lebih banyak, maka harga akan anjlok. Pedagang bisa menjual dengan harga jauh dibawah modal ," ucap Efi.
Dikatakan Efi, untuk saat ini pasar Bungo masih sangat bergantung pada daerah luar seperti Jawa, Curup, Kerinci dan Sumbar. Sementara untuk cabe lokal masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Kalau cabe lokal kita ada, tapi palingan cuma ratusan kilo perhari. Sementara kebutuhan kita sangat besar. Kalau cabe lokal kita banyak, maka kita tidak perlu lagi bergantung dengan daerah luar. Harga akan cendrung stabil ," sebutnya.
Disampaikannya, selain kurangnya cabe dari wilayah pemasok, faktor cuaca juga bisa mempengaruhi terjadinya kenaikan harga cabe. Kerena, jika musim hujan petani tidak bisa memanen cabe.
"Sebenarnya kondisi cuaca dan tanah kita sangat cocok untuk cabe, apalagi rawit. Tinggal lagi kemauan masyarakat kita. Seharusnya jangan terus bergantung dengan karet dan sawit yang harganya entah kapan membaik ," tutupnya.
Terpisah Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultural (TPH) Bungo, Muhammad Hasbi mengatakan pihaknya terus meningkatkan produksi cabe lokal. Penanamannya tersebar di beberapa kecamatan.
"Ada yang di kecamatan Muko Muko dan Pelepat Ilir. Ada yang sudah panen dan ada juga yang akan dan sudah tanam beberapa hari. Pokoknya akan terus kita tingkatkan ," ucapnya.
Dijelaskannya, ada sekitar 10 hektar yang dalam masa pengolahan tanah. Selain itu ada juga seluas 20 hektar dari dana APBN sedang proses pengadaan seprodi.
"Melalui APBD kita juga membantu seprodi berupa mulsa, pompa air dan obat obatan. Kita juga menyiapkan brigade bila terserang hama penyakit. Bila saat ini mahal, itu karena petani sebagian sudah habis masa panen ," jelasnya.
Desebutnya, petani memang mengatur masa penanaman. Tidak bersamaan ini dilakukan untuk mengurangi resiko anjloknya harga. Bila saat ini ketemu harga mahal maka ini rezekinya petani yang panen saat ini.(ptm)
