JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA – Pemerintah telah berupaya keras memulihkan ekonomi nasional dengan sejumlah program. Salah satunya, didorong lewat vaksinasi yang sudah berjalan saat ini.
Di sisi lain, optimisme juga hadir dari indeks keyakinan konsumsen masyarakat, yang mulai menunjukkan pemulihan tingkat kepercayaan dalam melakukan konsumsi.
Ini tercermin dari peningkatan indeks keyakinan konsumen yang membaik ke level 96,5 di bulan Desember 2020. Dunia usaha juga mulai bangkit, aktivitas manufaktur telah memasuki fase ekspansi (51,3) di bulan Desember 2020.
Permintaan akan Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan pada tahun lalu realisasi KUR mencapai target 100 persen.
Ketahanan sektor eksternal juga masih terjaga dengan baik. Hal ini didukung neraca perdagangan yang telah mengalami surplus selama delapan bulan berturut-turut hingga sepanjang tahun 2020, serta surplus secara kumulatif mencapai USD21,74 miliar. Angka tersebut menunjukkan ekspor Indonesia masih bergerak.
“Indeks PMI sampai November 2020 berada di bawah level 50 yang artinya ekonomi mengalami kontraksi. Namun kondisi ini sudah relatif membaik saat ini,” ujar Ekonom Bank BNI, Ryan Kiryanto kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (2/2).
Terkait dengan rilis Indeks Persaingan Usaha (IPU) yang diumumkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), IPU tahun 2020 mengalami penurunan, menurut Ryan hal itu adalah wajar. Sebab, di dalam situasi abnormal seperti saat ini, kondisi dunia usaha sangat jauh berbeda.
“Jadi kalau mau jujur, angka IPU 2019 di mana ekonomi normal dan sehat tidak bisa begitu saja dibandingkan dengan IPU 2020 yang ekonominya anjlok dalam. Tidak relevan dan tidak apple to apple membandingkan IPU 2019 dengan IPU 2020,” tuturnya.
