Aktivis Mynmar, Maung Saungkha dan Thet Swe Win, mengunggah pernyataan di halaman Facebook mereka bahwa polisi telah mencari mereka di rumah mereka, tetapi mereka tidak ada di rumah dan sekarang masih bebas.
Selain protes di jalanan, sebuah kampanye pembangkangan sipil telah dimulai, pertama dengan mogok kerja para dokter dan diikuti oleh beberapa guru dan pegawai pemerintah lainnya.
“Kami meminta staf pemerintah dari semua departemen untuk tidak hadir bekerja mulai Senin (8/2),” kata aktivis Min Ko Naing, seorang veteran demonstrasi tahun 1988 yang pertama kali membuat Suu Kyi terkenal.
Suu Kyi memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991 untuk kampanye demokrasi, dan menghabiskan hampir 15 tahun menjadi tahanan rumah selama beberapa dekade berjuang untuk mengakhiri pemerintahan militer di Myanmar yang berlangsung hampir setengah abad.
Suu Kyi, 75, tidak dapat berkomunikasi sejak panglima militer Min Aung Hlaing merebut kekuasaan pada 1 Februari 2021 dini hari.
Suu Kyi menghadapi dakwaan mengimpor enam walkie-talkie secara ilegal dan menjadi tahanan polisi untuk penyelidikan hingga 15 Februari.
Pengacara Suu Kyi mengatakan dia belum diizinkan untuk menemui pemimpin pemerintahan sipil Myanmar itu.
Kudeta oleh pihak militer Myanmar tersebut telah menuai kecaman internasional.
Dewan Keamanan PBB pekan lalu menyerukan pembebasan Suu Kyi dan tahanan lainnya dan Amerika Serikat sedang mempertimbangkan sanksi tertentu untuk Myanmar.
“Para pengunjuk rasa di Myanmar terus menginspirasi dunia saat aksi protes menyebar ke seluruh negeri,” kata pelapor khusus PBB untuk Myanmar Thomas Andrews melalui Twitter.
“Myanmar bangkit untuk membebaskan semua yang telah ditahan dan menolak kediktatoran militer untuk selamanya. Kami bersama anda,” cuit Andrews. (reu/ant/jpnn/fajar)
Sumber: www.fajar.co.id
