iklan Guru Besar Bidang Farmasetika Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Yandi Syukri saat menyempaikan pidato ilmiah dalam Rapat Terbuka Senat Milad Ke-78 UII di Kampus UII, Jogjakarta, Jumat (12/3).
Guru Besar Bidang Farmasetika Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Yandi Syukri saat menyempaikan pidato ilmiah dalam Rapat Terbuka Senat Milad Ke-78 UII di Kampus UII, Jogjakarta, Jumat (12/3). ((Humas UII/Antara ))

Adapun jintan hitam atau habatussauda, menurut dia, memiliki aktivitas antivirus, antioksidan, antiradang, antikoagulan, imunomodulator, bronkodilator, antihistaminik, antitusif, antipiretik, dan analgesik.

”Sehingga ini akan menjadi kandidat herbal potensial untuk mengobati pasien dengan Covid-19,” tutur Yandi Syukri.

Saat ini, kata Yandi, pengobatan alami digunakan sekitar 80 persen populasi dunia, terutama di negara berkembang untuk perawatan kesehatan primer. Sebab, dapat diterima secara budaya serta kemudahan akses dan keterjangkauan.

”Oleh karena itu, produk alami yang disebutkan dalam Alquran dan Hadits telah menarik perhatian ahli botani, ahli biokimia, dan farmakognosi, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” papar Yandi Syukri.

Tanaman yang berkhasiat sebagai imunomodulator, lanjut dia, memainkan peran penting dalam pengobatan infeksi inflamasi, dan imunodefisiensi melalui efeknya pada berbagai sel.

”Mekanisme kerjanya bisa sebagai imunomodulator, imunosupresi, atau imunoadjuvan untuk meningkatkan respons imun spesifik antigen,” ucap Yandi Syukri.(jpg/fajar)


Sumber: www.fajar.co.id

Berita Terkait



add images