Hasil penelusurannya, kata Tedi, hal ini efek dari perubahan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan. Sebagaimana diketahui pengusaha kuliner kembali bergerak setelah cukup vakum di masa pandemi. “Apalagi banyak hajatan yang juga jadi permintaan pasar meningkat,” katanya.
Sedangkan produktivitas petani mengalami penurunan akibat hama dan cuaca. Belum lagi sebagian petani cabai memilih berhenti bertani sementara waktu. “Karena sebelumnya kan mereka kesulitan juga untuk pengirimannya karena banyak pembatasan,” terangnya.
Maka dari itu, pihaknya akan turun ke kelompok-kelompok tani supaya kembali meningkatkan produktivitas. Agar ketersediaan cabai rawit kembali melimpah. “Kenapa sekarang mahal, karena barang sedikit sementara permintaan tinggi,” katanya.
Salah seorang ibu rumah tangga, Alita Banyu (31), warga Cipedes Kota Tasikmalaya mengaku kesal dengan harga cabai rawit yang terus naik. Sebab dia dan keluarganya merupakan pecinta sambal. Sehingga meski mahal, mau tidak mau harus membelinya. “Paling dikurangi jadi bikin sambalnya enggak terlalu banyak,” ujarnya.
Dia berharap ke depannya harga cabai rawit bisa kembali turun kembali. Karena lama kelamaan berat juga jika harus menyisihkan banyak uang belanja untuk membeli cabai. “Kalau lama-lama yang sesak juga ke dompet,” pungkasnya. (rga)
Sumber: www.fin.co.id
