JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA- Duel catur antara Dadang Subur alias Dewa Kipas dan Grand Master (GM) Indonesia, kategori wanita, Irene Kharisma Sukandar yang disiarkan live di saluran YouTube Deddy Corbuzier pada Senin (22/3), mendapat antusias yang luar biasa.
Bahkan chanel YouTube Deddy Corbuzier memecah rekor dengan jumlah penonton live terbanyak, yakni 1 juta lebih.
Rupanya masyarakat Indonesia punya kegemaran yang tinggi dengan olah raga otak yang satu ini. Tapi tunggu dulu, dari sisi Islam, menurut Ustad Abdul Somad, hukum permainan catur adalah haram.
Hal ini seperti dikutip chanel YouTube Teman Ngaji, dalam video yang berjudul ‘Hukum Main Domino dan Catur, Ustaz Abdul Somad Lc. MA’ . Video itu diunggah pada pada 26 Juli 2017 silam. UAS- Sapaan Abdul Somad, mengutip banyak pendapat ulama tentang catur haram.
“Dalam mazhab Hanafi mengharamkan dadu dan catur, itu menghabiskan waktu,” ujar UAS menangapi satu pertanyaan dari jamaah.
Selain disebut haram, UAS menilai catur bukan olahraga. “Masa olahraga, tapi bengong sampai tiga jam, aduh, mau persatuan catur nanti marah sama saya terserahlah,” katanya.
“Banyak yang dipikirkan itu pion-pion bisa selamat, kalau memang masalah ketangkasan banyak ketangkasan yang lain. Dadu dan catur sifatnya permainan,” imbuhnya.
Tak puas di situ, UAS kembali menjelaskan melalui akun Instagram @ustadzabdulsomad_official, yang terverifikasi. UAS, mengutip pendapat sejumlah imam dari berbagai mazhab.
Pertama, Imam An-Nawawi dari kalangan mazhab Syafi’i menyatakan bahwa hukum bermain catur adalah makruh. Namun jika bermain catur membuat salat dilalaikan maka hukumnya jadi haram.
“Menurut Imam an-Nawawi dari kalangan mazhab Syafi’i: Main catur itu makruh. (Tapi jika melalaikan shalat, jadi haram),” kata Somad.
Namun menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, kata Somad, bermain catur hukumnya haram.
“Imam Malik: catur lebih jelek dari dadu, karena lebih melalaikan,” katanya. Pendapat ini menurut UAS bersumber dari Syarh Shahih Muslim: juz.15, hal.15.
Komentar UAS itu sempat membuat heboh publik. Menteri Agama saat itu, Fachrul Razi ikut berkomentar. Dia menilai pendapat pendakwah kelahiran Asahan, Sumatera Utara itu tak perlu dikomentari.
“Halah.. kalau begitu-begitu enggak usah ditanggapi lah kalau begitu. Malu, diketawain orang banyak,” kata Fachrul.
“Karena orang bisa lihat dari referensi manapun,” ujarnya menambahkan.
“Saya selalu bilang ya, sekarang orang tidak bisa mengklaim paling tahu, paling hebat. Karena dokter spesialis pun bisa dituntut pasien yang tidak tahu apa-apa,” kata Fachrul.(dal/fin)
Sumber: www.fin.co.id
