Hal ini, kata dia, bisa menghambat masyarakat dan pengusaha kecil untuk mencari dana segar untuk pengembangan bisnis, apalagi banyak masyarakat atau pengusaha kecil yang melakukan pinjaman dari perbankan swasta dengan bunga kredit yang besar..
Padahal, kata Ibrahim, penurunan suku bunga kredit bertujuan untuk memberi stimulus kredit dunia usaha sehingga bisa membawa ekonomi Indonesia tumbuh di rentang 4,3 persen hingga 5,3 persen pada tahun ini. Bank Indonesia pun sebenarnya sudah meminta berulang kali kepada seluruh bank di Indonesia untuk segera menurunkan suku bunga kredit.
“Dari sudut pandang pemangku jabatan lainnya, terutama OJK bahwa penurunan suku bunga kredit bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pertumbuhan kredit. Tren suku bunga menurun yang terjadi di masa pandemi juga belum mampu menjadi stimulus pelaku usaha untuk menggunakan fasilitas kreditnya,” sebutnya.
Menurutnya apa yang disampaikan, baik oleh Bank Indonesia maupun OJK sama-sama benar, namun berada dalam koridor yang berbeda.
“Intinya saat ini yang dibutuhkan bagaimana mengembalikan demand masyarakat, terutama efektivitas vaksin akan menjadi game changer bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional karena akan memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas normal kembali,” tegasnya.
Setelah masyarakat semua sudah di vaksinasi, kata Ibrahim, maka pemerintah akan membuka PPKM Mikro sehingga masyarakat bisa kembali bekerja dan perusahaan bisa kembali mendapat modal segar dari perbankan dan pada akhirnya masyarakat akan berdampingan dengan covid-19.
“Startegi Ini sebenarnya yang sedang di tunggu pasar saat ini. Dan pasar sudah merespon positif terhadap penanganan yang sudah di lakukan oleh pemerintah berupa vaksinasi secara menyeluruh terhadap masyarakat,” tuturnya.
Terakhir, Ibrahim memproyeksikan perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat tipis di rentang Rp14.420 – Rp14.450 per dolar AS. (git/fin)
Sumber: www.fin.co.id,
