Di sisi lain, terjadi kebakaran di kantor pusat Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) di Yangon, Myanmar, Jumat (26/3). Kebakaran sekitar pukul 4 pagi itu tidak disebabkan hubungan arus pendek. Tapi karena serangan bom molotov. Untung, penduduk melihat kebakaran tersebut dan api berhasil dijinakkan satu jam kemudian dan kerusakan hanya terjadi di bagian depan.
”Kami akan mengajukan laporan ke polisi, kami tidak tahu siapa pelakunya,” ujar anggota NLD Soe Win seperti dikutip Agence France-Presse. Kantor NLD itu menjadi titik pusat aksi di awal-awal demo menentang kudeta.
Insiden tersebut berlangsung sehari sebelum Hari Pasukan Bersenjata yang diperingati setiap 27 Maret. Biasanya saat itu militer Myanmar menggelar parade untuk unjuk kekuatan. Ada ketakutan bahwa itu akan menjadi puncak kerusuhan. Sebab, demonstran berencana menggelar aksi besar-besaran di momen tersebut.
Militer Myanmar tidak pandang bulu ketika memuntahkan peluru. Kemarin tiga orang demonstran dilaporkan tewas. Total korban meninggal sejak kudeta 1 Februari mencapai 320 orang. Selain itu, lebih dari 3 ribu orang sudah ditangkap. Kemarin sekitar 300 orang di antaranya dibebaskan.
”Saya takut komunitas internasional hanya punya sedikit waktu tersisa untuk bertindak,” ujar Utusan Khusus PBB untuk HAM di Myanmar Tom Andrews.
Dia menyerukan agar segera diselenggarakan pertemuan darurat untuk merespons apa yang terjadi di Myanmar. Menurut dia, langkah-langkah yang diambil hingga saat ini belum cukup untuk menghentikan junta militer.
Sanksi adalah hal paling sering diberikan. Kamis (25/3) Inggris dan AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang dipegang petinggi militer Myanmar. Yaitu Myanmar Economic Holdings Public Company Limited (MEHL) dan Myanmar Economic Corporation Limited (MECL).(jpg/fajar)
Sumber: www.fajar.co.id
