Petani sawit.
Petani sawit.

Oleh : Ir. Muhammad Anggoro Kasih, S.P

Petani sawit kembali berteriak meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kaji ulang atas kebijakan terkait minyak sawit di dalam negeri. Pasalnya, kebijakan tersebut dinilai bak simalakama yang menekan petani sawit.

Semantara itu, harga TBS akibat efek domino pelarangan ekspor CPO dan turunannya pada 28 April - 22 Mei 2022 turun ke bawah Rp 1.000 per kg. Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Gulat ME Manurung, harga tandan buah segar (TBS) petani sawit swadaya per Kamis (23/6/2022) adalah Rp1.150/kg dan petani bermitra Rp2.010/kg. Per 26 Juni 2022, harga TBS di 10 provinsi wilayah anggota SPKS berkisar Rp 500-1.070 per kg.

"Harga ini 50-70% di bawah harga normal jika berdasarkan harga CPO Internasional (US$1.450/ton). Pemerintah harus gerak cepat untuk mendongkrak harga TBS petani dengan cara mencabut peraturan yang menekan harga TBS petani,

Kemudian, petani sawit juga mengalami kerugian sekitar Rp 1.500.000-2.000.000 per ha per bulan. Sementara, untuk kerugian petani sawit swadaya seluruh Indonesia dari bulan April-Juni ini sudah ada sekitar Rp 50 triliun. Saat ini, harga TBS jatuh tinggal Rp 500 s/d 1.000 per kilogram.

Bila tak ada respons serius, kondisi ini bisa jadi ancaman sendiri bagi pelaku industri sawit khususnya di tingkat petani. Mereka khawatir usahanya bisa gulung tikar karena harga yang berlaku saat ini belum bisa menutup biaya produksi seperti pupuk dan upah buruh tani. Saat ini, petani sawit menjerit dan menderita akibat jatuhnya harga TBS di harga paling rendah dan diperburuk oleh harga pupuk yang melambung tinggi.

Berdasarkan data World Bank-Commodity Market Review per 4 Januari 2022, Pupuk Urea dan diamonium fosfat (DAP) mengalami kenaikan yang signifikan. Sepanjang Januari hingga Desember 2021 misalnya, harga diamonium fosfat (DAP) di pasar internasional mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen. Saat awal tahun lalu, harga pupuk itu mencapai US$421 per ton, pencatat itu berakhir di posisi US$745 per ton pada Desember 2021.

Di sisi lain, Pupuk Urea mengalami peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang tahun lalu. Pupuk Urea sempat berada di harga US$265 per ton belakangan naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021. “Kenaikan harga pupuk non subsidi disebabkan oleh melonjaknya harga berbagai komoditas dunia seperti amonia, phosphate rock, KCL, gas dan minyak bumi karena pandemi, krisis energi di Eropa serta adanya kebijakan beberapa negara yang menghentikan ekspornya,” kata Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim.

Di sisi lain, harga gas alam dunia mengalami kenaikan dalam satu tahun terakhir. Harga gas alam dunia di pasar acuan Henry Hub mengalami kenaikan dari sekitar US$2,4 Million British Thermal Units (MMBtu) pada Januari 2021 menjadi sekitar US$3,96 MMBtu per 21 Januari 2022. Malahan, harga gas alam sempat menyentuh angka tertingginya selama setahun terakhir sebesar US$5,6 MMBtu pada September 2021.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Ali Jamil mengatakan kenaikan harga gas alam turut mempengaruhi harga pupuk Urea dan ZA di tingkat petani. Selain itu, kebijakan perdagangan di sejumlah negara produsen utama pupuk turut menyebabkan berkurangnya pasokan pupuk global. Misalkan, China mengumumkan kebijakan pembatasan ekspor pupuk hingga Juni 2022 untuk mengamankan ketersediaan pupuk domestik mereka. “Selama harga pupuk di tingkat internasional masih tinggi, maka harga pupuk non subsidi di dalam negeri juga mengikuti. Hal ini disebabkan harga pupuk non subsidi sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar,” kata dia.

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mendorong para petani untuk dapat menggunakan pupuk organik yang sesuai dengan wilayah sentra pertanaman masing-masing. Hal itu seiring dengan semakin tingginya harga pupuk saat ini. Sebagai solusinya adalah dengan pemupukan yang berimbang untuk menjadi jalan keluar di tengah situasi sulit seperti sekarang. Suka atau tidak suka, konsep penggunaan pupuk kimia saat ini harus lebih efisien karena sekaligus menghemat biaya produksi.
"Dengan pemanfaatan pupuk organik, hayati, dan mikroorganisme lokal, itu dapat mampu menekan kebutuhan (pupuk kimia) hingga 50 persen. Pemupukan berimbang menjadi salah satu bagian dari smart farming yang mulai digalakkan Kementan. "Ini harus digenjot karena harga pupuk saat ini kian berlanjut.

Serikat Petani Indonesia (SPI) juga mendorong para petani untuk mulai kembali kepada sistem pertanian agroekologi yang ramah lingkungan. Dorongan itu salah satunya untuk menyikapi semakin tingginya harga pupuk kimia yang diikuti dengan semakin meningkatnya ketergantungan para petani. Selanjutnya oleh Ketua Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi (P3A), SPI, Qomarun Najmi menerangkan, penggunaan pupuk organik saat ini seharusnya semakin masif karena memiliki banyak keuntungan.


Komentar

Berita Terkait

Pikachu Demokrasi

Pengelolaan Migas Jambi

Membaca Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Jambi

Economic Review : Kinerja Bank Jambi di tengah Pandemi

Korban dan Tuah, Inspeksi Mendadak Gubernur

Jambi 65 Tahun Dalam Krisis Ekologi & Sosial

Rekomendasi




add images