JAMBIUPDATE.CO, MUARASABAK- Selain air sumur warga yang kering, dampak dari musim kemarau juga berdampak terhadap hasil perkebunan warga di Kabupaten Tanjabtim.
Dimana hasil panen perkebunan petani, seperti sawit, kelapa dan lain-lain ternyata merosot drastis dari sebelumnya. Hal itu terjadi karena lahan perkebunan mengalami kekeringan, sehingga membuat hasil produksi pun menjadi berkurang.
"Kalau biasanya hasil panen yang merosot itu sawit, setelah itu baru kelapa, baru pinang. Sekarang semuanya serempak," kata Pardik, salah satu petani sawit di Desa Siau Dalam, Kecamatan Muara Sabak Timur.
Menurunnya hasil panen perkebunan sawit biasanya petani bisa menghasilkan sebanyak 2 sampai dengan 3 ton buah sawit dalam 1 hektar. Namun saat ini hal itu tidak terjadi, karena untuk mendapatkan 2 ton dalam 1 hektar saja petani kesulitan.
"Sekarang kita baru trip pertama. Kita lihat saja pada trip bulan depan, apakah akan kembali normal atau tidak. Kami berharap bisa kembali seperti sebelumnya," harapnya.
Selain sawit, lanjut Pardik, hasil panen perkebunan kelapa dan pinang juga mengalami hal yang sama. Dalam satu trip selama 3 bulan hasil panen juga mengalami penurunan produksi hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.
"Biasanya satu trip hasilnya 5-6 ribuan. Tapi saat ini hanya 3 ribuan lebih saat panen," terangnya.
Namun demikian harga jual hasil panen kelapa cukup bervariasi. Tergantung dari para toke yang meminta kepada para petani. Mulai dari kelapa bulan hingga sudah diolah menjadi kopra.
"Kalau kelapa masih bisa di siasati saat jual. Kalau hasil panen sedikit bisa kita jual bulat. Dijual dengan sistem timbangan hingga hitungan butir. Kalai hasilnya banyak kita olah menjadi kopra mentah," jelasnya.
Sementara untuk hasil perkebunan pinang, yang harganya mulai menggiurkan kembali, tetapi petani kembali dihadapkan dengan hasil panen yang mengalami penurunan. "Kalau pinang sudah di hargai Rp 7.000 per kilogramnya. Namun saat ini buahnya kurang," terangnya.
Mensiasati hasil panen perkebunan menurun ini, petani di wilayah Kabupaten Tanjabtim masih dikatakan tidak terpuruk. Pasalnya, tiga komoditi perkebunan ini hampir rata-rata di miliki petani wilayah Tanjabtim.
"Ya masih aman. Sebab meski hasil menurun tiga komoditi ini masih kita panen secara bergantian," tukasnya. (lan)
