Temuan tidak hanya terbatas pada makanan. Pemeriksaan sampel klinis menunjukkan feses seorang siswa berusia 7 tahun positif E. coli, memperkuat dugaan bahwa sumber paparan berasal dari pangan yang terkontaminasi.
Selain itu, kualitas air sumur bor yang digunakan juga dinyatakan tidak memenuhi standar. Total coliform mencapai 33 CFU/100 ml atau melampaui ambang batas, sedangkan kandungan mangan tercatat 0,74 mg/l.
Tim pemeriksa menyimpulkan pola kejadian mengarah pada common source outbreak, yakni wabah dengan satu sumber paparan yang sama. Lonjakan kasus terjadi dalam waktu singkat, diduga akibat kontaminasi pada proses pengolahan atau distribusi makanan sebelum dikonsumsi.
Secara umum, Staphylococcus aureus berasal dari tangan atau peralatan yang tidak higienis, sedangkan E. coli berkaitan dengan sanitasi lingkungan yang buruk.
Satgas MBG meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan makanan, kebersihan dapur, serta kualitas air. Rekomendasi perbaikan juga disampaikan kepada yayasan penyelenggara, termasuk peningkatan pengawasan dapur dan penerapan standar keamanan pangan yang lebih ketat.
"Pengawasan harian oleh petugas di lokasi produksi harus diperkuat agar seluruh proses berjalan sesuai prosedur," tuturnya.
Terkait kemungkinan penghentian kerja sama atau penggantian pengelola, ia menyebutkan keputusan berada di tangan BGN Pusat.
“Satgas hanya menyampaikan hasil pemeriksaan dan rekomendasi. Keputusan akhir sepenuhnya kewenangan BGN Pusat,” tegasnya. (wan)
