Menurut Edi, kondisi tersebut bahkan membuat sebagian petani mulai memilih menunda panen karena hasil penjualan dinilai belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
"Kalau harga seperti ini, untuk panen dan perawatan juga jadi berat. Petani akhirnya banyak yang memilih menunda panen," ujarnya.
Para petani berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mencari solusi untuk menjaga kestabilan harga kelapa dalam. Mereka khawatir jika harga terus merosot, perkebunan kelapa yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir Tanjabtim akan semakin terpuruk.(lan)
