iklan Embung dan Menara Pantau Jadi Titik Vital Cegah Karhutla di BBB
Embung dan Menara Pantau Jadi Titik Vital Cegah Karhutla di BBB

JAMBIUPDATE.CO, MUARO JAMBI – Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) tak menunggu api muncul untuk bergerak. Berbagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan dilakukan jauh sebelum potensi kebakaran terjadi.

Upaya tersebut menjadi fokus PT Brahma Binabakti (BBB), anak usaha TAP yang beroperasi di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Sistem pencegahan dan pengendalian karhutla dibangun secara menyeluruh, mulai dari kesiapan personel dan sarana, deteksi dini berbasis satelit, patroli rutin hingga kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitar wilayah operasional.

BACA JUGA: Hanura Jambi Tancap Gas, Oktober Seluruh Struktur Partai Ditargetkan Rampung

Estate Manager BBB Timbul Simbolon mengatakan, kesiapan menghadapi karhutla harus dibangun sejak dini. Penanganan tidak boleh baru dilakukan ketika api sudah membesar.

"Kesiapan menghadapi karhutla harus dibangun jauh sebelum api muncul, bukan saat api sudah ada. Karena itu pendekatan kami mencakup tiga pilar, yaitu preventif, promotif, dan kolaboratif, mulai dari SOP, kesiapan personel dan sarana, serta patroli rutin," ujar Timbul kepada awak media beberapa hari lalu.

BACA JUGA: Kesuksesan Ernawati, Memulai Usaha Dalam Keadaan Terlilit Utang, Kini Kelola 20 Hotel di Arab Saudi

Menurut dia, kecepatan mendeteksi potensi kebakaran menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian karhutla. Semakin cepat titik panas diketahui dan diverifikasi, semakin besar peluang api dapat ditangani sebelum meluas.

Untuk mendukung deteksi dini, BBB menerapkan Early Warning System (EWS) hotspot berbasis satelit. Informasi titik panas diterima secara real time melalui notifikasi email yang dilengkapi peta dan koordinat lokasi.

Informasi tersebut selanjutnya ditindaklanjuti petugas lapangan melalui ground check untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi. Patroli juga disesuaikan dengan tingkat kerawanan atau Fire Danger Rating (FDR).

BACA JUGA: Hadapi Kemarau, Brahma Binabakti Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla

Frekuensi patroli ditingkatkan sesuai kondisi, mulai dari tingkat kerawanan rendah hingga ekstrem. Dalam pelaksanaannya, petugas didukung berbagai sarana, seperti menara pantau api dan radio komunikasi.

Dari sisi sarana dan prasarana, BBB menyiapkan dua gudang pemadam kebakaran, dua unit mobil pemadam, 12 menara pantau api, 17 titik embung air serta dua unit drone.

Keberadaan 12 menara pantau dan 17 embung menjadi bagian penting dalam sistem antisipasi karhutla di kawasan perkebunan BBB. Timbul menjelaskan, 12 menara pantau tersebut tersebar di sejumlah titik strategis di kawasan perkebunan. Keberadaan menara tersebut untuk membantu petugas memantau sekaligus mengetahui secara cepat apabila terjadi indikasi kebakaran.

"Setiap menara titik pantau ada petugas yang standby. Nantinya para petugas akan berkoordinasi jika ada kejadian," katanya.

Sementara itu, 17 embung disiapkan sebagai sumber air untuk mendukung proses pemadaman apabila terjadi kebakaran. Selain embung, sejumlah sumber mata air di wilayah operasional perusahaan hingga kini masih tersedia.

"Sumber mata air sejauh ini tidak pernah kering. Jadi kemarau tidak mempengaruhi ketersediaan air," ujar Timbul.

Dengan dukungan deteksi dini, personel, sarana pemantauan dan ketersediaan sumber air, BBB berupaya memastikan potensi karhutla dapat diketahui sedini mungkin dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (wan)


Berita Terkait



add images