JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Perjalanan hidup pengusaha asal Jambi, Ernawati, jauh dari kata mudah. Sebelum sukses mengembangkan bisnis perhotelan di Arab Saudi, Ayu mengaku pernah berada dalam kondisi terpuruk hingga terlilit utang mencapai Rp10 miliar.
Kini, perempuan yang baru dilantik sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi itu justru mengelola sekitar 20 hotel di kawasan Arab Saudi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan akomodasi jamaah umrah dari berbagai negara.
Kisah tersebut disampaikan Ernawati saat berbincang dalam podcast Ngopi Pahit Jambitv
Ernawati mengatakan bisnisnya di Arab Saudi awalnya tidak langsung bergerak sebagai pemilik atau pengelola hotel.
Ia mengawali usaha sebagai perantara atau marketing bagi travel umrah di Indonesia yang membutuhkan hotel di Arab Saudi.
“Awalnya kita hanya seperti marketing. Teman-teman ada yang membutuhkan hotel, travel umrah di Indonesia pesan hotel ke Saudi, kita hanya menjadi penengah,” kata Ernawati
Kemampuan berbahasa Arab menjadi salah satu modal penting dalam mengembangkan bisnis tersebut.
Selama sekitar lima tahun, Ernawati menjalankan bisnis dengan model tersebut. Setelah itu, ia mulai mengambil sistem allotment, yakni menyewa kamar atau bagian hotel dalam jumlah tertentu untuk kemudian dikelola dan dipasarkan sendiri.
Dari awalnya hanya menyewa satu lantai dengan sekitar 20 kamar, bisnis tersebut berkembang hingga mencapai sekitar 20 hotel yang dikelolanya.
Hotel-hotel tersebut tidak hanya dipasarkan kepada jamaah Indonesia.
Ernawati mengatakan pasar bisnisnya telah berkembang ke berbagai negara, termasuk Aljazair, Mesir, Turki, Uzbekistan hingga sejumlah negara Afrika.
Meski demikian, jamaah Indonesia tetap menjadi salah satu pasar utama bisnisnya.
Selain menyediakan hotel, Ernawati juga mengembangkan layanan yang berkaitan dengan kebutuhan perjalanan umrah, termasuk makanan dan visa.
Namun, kesuksesan tersebut tidak datang dalam kondisi serba berkecukupan.
Ia mengungkapkan dirinya justru memulai usaha dalam keadaan terlilit utang.
“Ketika saya membuka usaha ini, bukan dalam keadaan punya modal. Dalam keadaan minus, dalam keadaan hutang,” ujarnya.
Total utang yang pernah ditanggungnya disebut mencapai sekitar Rp10 miliar.
Dalam kondisi tersebut, Ayu tidak memilih menghindar dari pihak yang memberikan pinjaman. Ia justru meminta mereka mendoakan agar dirinya mampu melunasi utang.
“Saya berniat membayar hutang, tapi tolong doakan saya,” katanya.
Menurut Ernawati, pendekatan tersebut membuat para pemberi pinjaman memahami kondisi yang dihadapinya.
Ia kemudian mengklaim seluruh utang Rp10 miliar tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu tahun.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya dalam menjalankan bisnis.
Menurut Ernawati, seseorang yang memiliki utang tidak boleh menghilang atau menghindari pihak yang memberikan pinjaman. Komunikasi dan kejujuran mengenai kondisi usaha justru menjadi hal penting.
“Kalau kita berhutang juga harusnya jangan meninggalkan, harus berlaku baik, mengatakan keadaan kita sebenarnya,” ujarnya.
Kini, Ernawati telah membangun bisnis yang tidak hanya melayani pasar Indonesia. Sistem manajemen juga telah dibentuk di Arab Saudi dengan mempekerjakan sejumlah tenaga kerja dari berbagai negara.
Menurutnya, perkembangan bisnis tersebut terjadi secara bertahap dan tidak pernah direncanakan sejak awal secara besar-besaran.
“Tidak ada niat, mengalir saja,” katanya.
Perjalanan tersebut pula yang membuat Ayu menilai pengalaman jatuh bangun jauh lebih penting dibanding sekadar modal uang.
Baginya, kemampuan untuk bangkit, membangun jaringan dan menjaga kepercayaan menjadi bagian penting dalam membesarkan usaha.
Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Kisah Ernawati, Pengusaha Jambi yang Pernah Terlilit Utang Rp10 Miliar Kini Kelola 20 Hotel di Arab Saudi".
(*)
Sumber: kenali.co.id
