iklan Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Pasar kerja Indonesia juga menunjukkan perbaikan, meskipun kualitas pekerjaan masih menjadi persoalan penting. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, sedangkan rata-rata upah buruh tercatat sekitar Rp3,39 juta per bulan.

Pertanian masih menyerap sekitar 42,60 juta pekerja atau 28,75 persen dari keseluruhan penduduk yang bekerja. Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangannya bukan hanya menciptakan pekerjaan, melainkan meningkatkan produktivitas, kepastian, perlindungan, dan pendapatan pekerja.

Pekerjaan yang tersedia belum seluruhnya mampu membawa keluarga menuju kehidupan yang aman dan sejahtera. Banyak pekerja berada di sektor informal, bekerja dengan jam tidak menentu, tanpa kontrak, perlindungan sosial, jaminan pensiun, atau pendapatan yang stabil.

Bonus demografi dapat berubah menjadi bonus produktivitas apabila tenaga kerja memperoleh pendidikan, keterampilan, kesehatan, teknologi, dan kesempatan berusaha. Sebaliknya, penduduk usia produktif dapat menjadi sumber kekecewaan sosial apabila pertumbuhan tidak menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan harapan. Industrialisasi, UMKM, ekonomi digital, pertanian modern, industri kreatif, serta ekonomi hijau perlu menjadi ruang penciptaan pekerjaan masa depan.

Perkembangan kemiskinan memberikan tanda positif sekaligus pengingat tentang besarnya pekerjaan yang belum selesai. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen, dari 8,25 persen pada September 2025.

Jumlah penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang, berkurang sekitar 430 ribu orang dalam enam bulan dan 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Penurunan tersebut layak diapresiasi karena menunjukkan perbaikan kesejahteraan pada sebagian masyarakat. Namun, hampir 23 juta penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan menegaskan bahwa pertumbuhan belum boleh dirayakan secara berlebihan.

Selain penduduk miskin, terdapat kelompok rentan yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan dan mudah kembali jatuh ketika menghadapi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, sakit, bencana, atau gagal panen. Kebijakan sosial tidak cukup hanya mengenali penduduk yang telah miskin, tetapi juga harus mencegah keluarga rentan mengalami kemiskinan baru.


Berita Terkait



add images