iklan Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Data penerima bantuan perlu terus diperbaiki melalui integrasi administrasi kependudukan, kondisi sosial ekonomi, dan verifikasi lapangan. Perlindungan sosial juga harus dihubungkan dengan pelatihan, akses permodalan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Bantuan yang baik bukan hanya meringankan beban hari ini, tetapi memperbesar kemampuan keluarga menghadapi hari esok.

Transformasi ekonomi Indonesia memerlukan hilirisasi yang lebih luas daripada pengolahan mineral. Kekayaan perkebunan, pertanian, perikanan, kehutanan, energi terbarukan, dan keanekaragaman hayati harus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi perlu melibatkan industri domestik, tenaga kerja lokal, pusat penelitian, perguruan tinggi, UMKM, dan pemerintah daerah agar manfaatnya tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Keberhasilannya harus diukur melalui penciptaan pekerjaan, penguasaan teknologi, peningkatan ekspor, berkembangnya pemasok lokal, dan perbaikan lingkungan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi tempat sumber daya digali dan diproses, tetapi harus berkembang sebagai tempat teknologi, desain, pengetahuan, serta merek bernilai tinggi diciptakan.

Pembangunan ekonomi juga harus berjalan searah dengan perlindungan lingkungan dan transisi menuju energi yang lebih bersih. Pertambangan, perkebunan, industri, dan pembangunan infrastruktur yang mengabaikan daya dukung alam dapat menciptakan pertumbuhan hari ini dengan biaya besar pada masa depan.

Banjir, kebakaran hutan, pencemaran sungai, kerusakan pesisir, dan kehilangan keanekaragaman hayati bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga kerugian ekonomi. Istilah pembangunan hijau tidak boleh menjadi slogan yang indah dalam dokumen, sementara izin, investasi, dan pengawasan masih berjalan tanpa ketegasan. Kemajuan yang tidak merusak harus menjadi prinsip yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab antargenerasi.

Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto membawa agenda besar berupa swasembada pangan dan energi, hilirisasi, pertahanan, pembangunan manusia, serta percepatan pertumbuhan ekonomi. RPJMN 2025–2029 menargetkan pertumbuhan meningkat secara bertahap hingga 8 persen pada 2029 dan kemiskinan turun menjadi sekitar 4,5–5 persen.

Target tersebut mencerminkan keberanian dan optimisme, tetapi pencapaiannya memerlukan lonjakan investasi, produktivitas, kualitas sumber daya manusia, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi. Pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II 2026 merupakan modal yang baik, tetapi masih menyisakan jarak panjang menuju sasaran 8 persen. Ambisi akan memperoleh kepercayaan apabila disertai peta jalan yang jelas, pembiayaan yang sehat, dan ukuran keberhasilan yang dapat diperiksa.

Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu kebijakan yang paling terlihat dalam pemerintahan saat ini. Badan Gizi Nasional mencatat lebih dari 61,2 juta penerima manfaat pada awal Maret 2026, sehingga program tersebut mempunyai jangkauan sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Pelaksanaannya berpotensi memperbaiki gizi, meningkatkan kehadiran siswa, membuka pekerjaan, dan menciptakan pasar bagi petani, peternak, nelayan, serta UMKM lokal. Namun, besarnya skala program menuntut standar keamanan pangan, kualitas menu, ketepatan penerima, keterbukaan pengadaan, pengawasan anggaran, dan evaluasi dampak yang ketat. Program unggulan tidak cukup dinilai dari jumlah porsi yang dibagikan, tetapi dari perbaikan gizi, kesehatan, pembelajaran, dan ekonomi lokal yang dapat dibuktikan.

Kunjungan Presiden ke berbagai daerah, pertemuan dengan masyarakat, serta komunikasi langsung mengenai agenda pembangunan merupakan bagian penting dari kepemimpinan nasional. Kehadiran pemimpin dapat membangun harapan, mempercepat koordinasi, dan menunjukkan bahwa persoalan daerah memperoleh perhatian pemerintah pusat.

Namun, kedekatan simbolik tidak boleh menggantikan efektivitas kebijakan, kualitas institusi, dan pemenuhan janji politik.

Kunjungan mendekatkan presiden kepada rakyat, tetapi kerja nyata dan pemenuhan janji politiklah yang mendekatkan rakyat kepada kesejahteraan. Masyarakat pada akhirnya tidak hanya mengingat pidato dan upacara, tetapi merasakan apakah pekerjaan bertambah, harga terkendali, hukum berlaku adil, dan pelayanan publik membaik.

Pemerintahan Presiden Prabowo masih memiliki waktu untuk memperkuat arah dan kualitas pelaksanaan program. Stabilitas ekonomi, penurunan kemiskinan, perluasan Makan Bergizi Gratis, serta perhatian terhadap pangan dan hilirisasi merupakan capaian serta agenda yang patut dihargai.

Namun, ruang fiskal, tata kelola program besar, kepastian hukum, kualitas birokrasi, ketimpangan antardaerah, dan perlindungan lingkungan tetap memerlukan perhatian serius. Defisit APBN semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB masih berada dalam batas yang terkendali, tetapi setiap belanja harus menghasilkan manfaat yang sepadan. Kepemimpinan yang kuat bukan hanya berani menetapkan target besar, melainkan juga berani mengevaluasi, memperbaiki, dan menghentikan kebijakan yang tidak efektif.

Masa depan Indonesia terletak pada kemampuan mengubah pertumbuhan menjadi pemerataan, sumber daya menjadi nilai tambah, dan jumlah penduduk menjadi produktivitas. Pertanian harus menyejahterakan petani, industri harus menciptakan pekerjaan, teknologi harus memperluas kesempatan, dan investasi harus menjaga kepentingan nasional. Pemerintah pusat dan daerah perlu bergerak dalam arah yang sama tanpa membiarkan pembangunan hanya terkonsentrasi pada beberapa kota dan pulau.

Indonesia tidak kekurangan modal untuk maju, tetapi memerlukan konsistensi, integritas, pengetahuan, dan keberanian agar seluruh modal tersebut menghasilkan kesejahteraan. Ketika matahari terbit di seluruh penjuru Nusantara, masa depan Indonesia semestinya tidak hanya tampak semakin terang, tetapi benar-benar dirasakan lebih adil oleh setiap warga negara.(*)


Berita Terkait



add images