iklan

JAMBIUPDATE. CO, MUARASABAK-Persoalan akses listrik masih dirasakan puluhan kepala keluarga di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Hingga kini, sekitar 40 KK di Dusun Suka Jaya RT 017 dan Dusun Geragai RT 08 belum menikmati aliran listrik dari PLN.

Untuk memenuhi kebutuhan penerangan, warga terpaksa mengandalkan mesin diesel dan genset. Kondisi tersebut bahkan telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Ironisnya, permukiman warga disebut hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari jaringan listrik yang sudah tersedia. Namun, jaringan tersebut belum juga diperpanjang hingga ke dua dusun tersebut.

Kepala Dusun Suka Jaya, Samsiah, S.Pd., mengatakan masyarakat telah berulang kali mengusulkan pemasangan jaringan listrik. Proposal pertama kali disampaikan pada 2020, kemudian kembali diajukan pada 2025.

"Pada Februari 2026 kami kembali menyampaikan usulan. Pihak PLN juga sudah pernah turun melakukan survei ke lokasi," kata Samsiah.

Meski survei telah dilakukan, warga masih menunggu realisasi pembangunan jaringan. Samsiah berharap pemerintah bersama PLN dapat memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat yang hingga kini belum mendapat pelayanan listrik.

"Harapan besar kami, mudah-mudahan pihak PLN dan pemerintah bisa masuk ke sini dan melihat masih ada warga yang belum mendapatkan penerangan," ujarnya.

Keterbatasan listrik membuat warga harus mengatur penggunaan genset. Mesin biasanya hanya dinyalakan beberapa jam pada malam hari untuk menghemat bahan bakar.

"Biasanya mulai jam 6 sore dan mati sekitar jam 9 malam. Bahan bakarnya sekarang sulit didapat, selain mahal juga langka," ungkap salah seorang warga, Samsul.

Kondisi itu juga berimbas terhadap kegiatan belajar anak-anak. Saat genset tidak bisa digunakan, anak-anak terpaksa belajar dengan penerangan senter maupun lilin.

Di sisi lain, kebutuhan listrik kini semakin penting, terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan dan komunikasi. Telepon seluler yang digunakan anak-anak sekolah juga membutuhkan listrik untuk pengisian daya.

"Di era digital seperti sekarang, anak sekolah membutuhkan ponsel dan energi listrik. Tetapi untuk mendapatkan penerangan saja kami masih kesulitan," keluh warga lainnya, Sirajuddin.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat segera mencarikan solusi. Warga juga meminta perhatian PetroChina yang wilayah operasionalnya berada di sekitar kawasan tersebut.

"Kami berharap pemerintah dan terutama pihak PetroChina bisa melihat kondisi kami," sebutnya.

Warga berharap penantian panjang tersebut segera berakhir. Mereka ingin jaringan listrik dibangun hingga ke permukiman sehingga puluhan keluarga tidak lagi bergantung pada genset hanya untuk mendapatkan penerangan pada malam hari. (lan)

 


Berita Terkait



add images