iklan Naya Mitsa Ghaliza
Naya Mitsa Ghaliza

Oleh. Naya Mitsa Ghaliza

Ada satu pertanyaan yang kerap muncul ketika saya kembali dari program atau kegiatan internasional: "Terus, setelah ini apa?" Banyak yang menyimpan pengalaman itu sebagai kenangan manis di CV. Tapi bagi saya, pertanyaan itu justru jadi titik awal dari sesuatu yang lebih besar. Ini yang melahirkan organisasi non-profit bernama ReJambi.

Kisah ReJambi tidak dimulai dari rencana besar yang matang di atas kertas. Ia dimulai dari sebuah momen refleksi, saat itu ketika menjadi siswa MAN Insan Cendekia Jambi yang juga pernah mengikuti program AFS Global STEM Innovators dan Global STEM Accelerators, dua program internasional yang mendorong majunya STEM. Saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang yang punya satu kesamaan: mereka semua ingin membuat sesuatu yang lebih baik, dimulai dari kota masing-masing.

Melihat teman-temannya pulang dengan proyek-proyek keren di kampung halaman mereka, muncul satu pertanyaan sederhana di kepala saya: kalau mereka bisa, kenapa saya tidak berani memulai?

Dari situlah, pada Desember 2024, ReJambi lahir. Sekali lagi, ia tidak lahir dari modal besar atau jaringan luas, tapi dari keberanian untuk memulai dari yang kecil. Saya mengajak teman-teman satu almamater di MAN Insan Cendekia Jambi untuk turun tangan bersama, mendukung proyek-proyek sosial kecil di Jambi. Perlahan tapi pasti, lingkaran itu tumbuh, dan kini ReJambi berhasil menggerakkan relawan dari berbagai penjuru Jambi, bukan hanya dari satu sekolah saja.

Langkah Pertama yang Menentukan Arah
Proyek perdana ReJambi jauh dari kata megah. Berkolaborasi dengan Rumah Baca Evergreen milik Bu Yanti, kegiatan ini hanya melibatkan sekitar 14 relawan dan 11 anak-anak. Skalanya kecil, tapi kami yakin maknanya besar, ini adalah bukti bahwa niat baik, sekecil apa pun, bisa diwujudkan menjadi aksi nyata.

Dari titik itu, ReJambi terus melangkah. Sejak berdiri, organisasi ini telah menjalankan lima proyek yang seluruhnya berfokus pada isu pendidikan, lingkungan, dan sosial. Semuanya sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4, 11 dan 13 (Pendidikan Berkualitas, Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta Penanganan Perubahan Iklim).

Bekerja dengan Kolaborasi
Pada 17 Juli 2026, ReJambi menjalankan proyek kelimanya, kali ini bersama Yayasan Pesona Kebaikan Indonesia. Proyek ini punya makna yang lebih personal dibanding sebelumnya. Tetapi sebenarnya kami juga pernah sebelumnya berkolaborasi dengan Perpustakaan Kota Jambi dalam rangka Hari Anak. Proyek ini adalah proyek terakhir yang dijalankan saya dan teman teman sebelum resmi bertolak ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Saya merupakan awardee Beasiswa Garuda angkatan ke-2 dan sedang menjalani program Double Degree di Universitas Gadjah Mada, mengambil jurusan Hubungan Internasional dengan pairing country Melbourne University. Sebuah babak baru yang membawa saya lebih jauh dari Jambi, namun tidak memutus komitmen saya pada ReJambi.

Di balik pencapaian itu, saya tidak menutupi satu kenyataan: perjalanan ReJambi selama dua tahun terakhir belum berjalan seoptimal yang diharapkan. Dalam kurun waktu satu setengah tahun, ReJambi baru berhasil menjalankan lima proyek, sebuah angka yang menurutnya masih jauh dari potensi yang sebenarnya bisa dicapai.

Namun alih-alih menyerah, momen kepindahan ke Jogja justru menjadi titik balik. Bersama tim, kami bersepakat bahwa inilah saatnya ReJambi naik level. Dari sekadar kumpulan relawan proyek per proyek, menjadi organisasi yang punya struktur, konsistensi, dan keberlanjutan jangka panjang.

Untuk mewujudkan visi tersebut, ReJambi resmi membuka rekrutmen Badan Pengurus Harian (BPH) pertama mereka, berlangsung dari 18 Juli hingga 1 Agustus 2026. Ini menjadi langkah krusial dalam transformasi ReJambi dari sebuah inisiatif personal menjadi organisasi yang berdiri di atas sistem dan kepemimpinan bersama.

Posisi yang dibuka meliputi: Sekretaris, Bendahara, Divisi Program & Aksi, Divisi Social Media Management, serta Divisi Relasi. Yang dicari bukan sekadar individu dengan CV mentereng, melainkan personal yang konsisten dan bertanggung jawab. Dua nilai yang selama ini menjadi fondasi ReJambi sejak proyek pertamanya di Rumah Baca Evergreen.

Lebih dari Sekadar Organisasi
ReJambi adalah bukti bahwa gerakan sosial tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari satu orang, satu rumah baca, dan 11 anak-anak yang ingin belajar. Yang terpenting bukan seberapa besar langkah pertama, tapi seberapa konsisten langkah-langkah berikutnya.

Kini, saya melanjutkan perjalanan akademik ke Yogyakarta dan ReJambi yang tengah membangun struktur kepemimpinan baru, satu hal jadi jelas, ini bukan akhir dari cerita ReJambi. Ini adalah episode baru permulaan dari babak yang jauh lebih serius dan berkelanjutan. Dan tentu saya dan teman-teman tim di ReJambi akan terus belajar untuk tumbuh dengan membesarkan ReJambi. Semoga wadah ini menjadi gerakan sosial bersama untuk kehidupan berkelanjutan yang lebih baik.

Founder ReJambi, mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Hubungan Internasional UGM.


Berita Terkait



add images