"Ketika saya mendapat kebakaran di lokasi yang jauh dari permukiman masyarakat atau susah sinyal, itu perasaan yang paling sedih. Saya tidak bisa menghubungi istri dan keluarga saya," ujarnya.
Pekerjaan pemadaman karhutla juga menuntut ketahanan fisik. Akses menuju lokasi yang sulit, terik matahari, paparan asap, hingga keterlambatan pasokan makanan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi petugas di lapangan.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, David tetap berusaha menjalankan tugas bersama timnya agar kebakaran dapat dikendalikan dan dampaknya tidak semakin meluas.
Ada kalimat sederhana dari rekannya bernama Tobi yang kerap ia ingat ketika rasa lelah datang. Kalimat itu menjadi pengingat tentang tanggung jawabnya sebagai pekerja sekaligus kepala keluarga.
"Ketika bekerja kena asap, pulang kerja kena asap. Ketika kita tidak bekerja, dapur tidak berasap," kenang David menirukan perkataan rekannya.
Bagi David, ungkapan tersebut menggambarkan perjuangan mencari nafkah. Terlebih, kini ada seorang bayi yang harus ia penuhi kebutuhannya, mulai dari susu hingga keperluan sehari-hari.
Sebagai pemimpin tim di lapangan, David juga dituntut memahami karakter setiap anggota. Pengalaman bertahun-tahun bekerja bersama membuat hubungan mereka tumbuh lebih dekat, bahkan ia menganggap rekan-rekannya sebagai keluarga sendiri.
"Tim di lapangan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri," katanya.
Doa Seorang Istri Menanti Kepulangan
Di rumah, Angel berusaha menjaga komunikasi dengan suaminya setiap kali ada kesempatan. Namun, upaya itu tidak selalu berjalan lancar. Terkadang pesan tak kunjung dibalas atau panggilan telepon tidak tersambung karena keterbatasan jaringan di lokasi penugasan.
