Minggu, 22 April 2018
Berita Jambi Paling Update


Politik Identitas Hal yang Wajar Jelang Pilkada Kerinci

Senin, 26 Maret 2018 - 22:00:08 WIB | Dibaca: 250 pembaca
Ari Anggara.

Oleh : Ari Anggara

Proses lobi terhadap partai politik dari daerah ke pusatpun telah usai, penetapan pasangan calon dan pencabutan nomor urut juga telah dilaksanakan oleh KPU.

Seiring berjalannya waktu tak terasa beberapa bulan lagi proses pemungutan suara akan dilaksanakan di tiap-tiap TPS pada setiap daerah yang terdaftar sebagai peserta PILKADA serentak tahun 2018, tentunya ini menunjukan bahwa semakin minimnya durasi waktu yang dimiliki para pasangan calon untuk bersosialisasi ataupun melakukan aksi/tindakan yang bertujuan untuk mendulang dukungan dan simpati dari masyarakat banyak (Kampanye).

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) juga bagian dari Pemilihan Umun (PEMILU) diselenggarakan oleh Negara Indonesia yang merupakan salah satu wujud Demokrasi dengan tujuan untuk menjunjung tinggi hak setiap warga negaranya diamana rakyat memiliki otoritas tertinggi dalam memilih (Right to vote) pimpinan daerahnya.

Setiap warga negara yang telah memenuhi syarat berhak untuk memberikan hak suaranya untuk memilih pemimpinan daerah masing-masing sesuai dengan keinginan hati tanpa intimidasi dari pihak lain, sehingga pada dasarnya Pilkada ialah salah satu wadah bagi rakyat untuk menegakan kedaulatannya.

Pada tahun 2018 ini, ada 171 daerah di seluruh Indonesia (17 Provinsi, 115 Kabupaten dan 39 Kota) yang terdaftar secara resmi sebagai peserta pada ajang kontestasi politik ”Pilkada” secara serentak, diantaranya yakni Kabupaten Kerinci yang juga merupakan salah satu daerah yang masuk dalam daftar peserta PILKADA serentak tahun 2018 ini.

Dari bulan kebulan berbagai manuver dan strategi politik dilakukan oleh setiap pasangan calon, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa suhu politik di kabupaten Kerinci saat ini terasa agak lebih memanas, karena kian gencarnya dikembangkan isu Politik Identitas ataupun Fanatisme kedaerahan yakni Kerinci Mudik, Tengah dan Hilir. Sehingga isu tersebut tentunya menimbulkan berbagai spekulasi ditengah masyarakat, ada yang secara frontal menolaknya dan ada juga sebagian menyikapinya dengan biasa saja.

Berbicara tentang politik identitas tentunya berpusat pada politisasi identitas bersama atau perasaan ”kekitaan” yang menjadi basis utama perekat kolektivitas sebuah kelompok. Dimana Identitas dipolitisasi dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang yang merasa sama, baik secara ras, etnisitas, agama, daerah, bahasa maupun elemen perekat lainnya. Sehingga kalau berbicara politik identitas selalu akan ada pro dan kontranya, ada yang menyikapi secara berlebihan dengan dalih berpotensi konflik primordial dan ada juga yang beranggapan suatu hal yang wajar karena momen politik.

Namun sebelum menyikapi hal tersebut ada baiknya kita memahami konsep dasar munculnya politik identitas, dimana pada hakekatnya politik identitas akan timbul atau hadir sebagai narasi rensisten kelompok yang merasa terpinggirkan akibat kegagalan dan kekurangan narasi terhadap arus utama untuk mengakomodir kepentingan kelompok tertentu secara positif.

Sehingga pada skemanya dapat kita artikan bahwa politik identitas adalah suatu sikap politis yang lahir dari suatu kelompok karena minim perhatian dari otoritas tertinggi yang menaungi serta memiliki kepentingan terhadap mereka atau juga suatu kelompok yang merasa tersisih dari kelompok lainnya yang merasa lebih dominan. Dari sisi inilah kita bisa mengerti juga memahami mengapa isu politik identitas ini berkembang di Kabupaten Kerinci.

Bagaimana skema, alur dan dinamika sebenarnya Politik identitas dikabupaten Kerinci.
PILKADA Kabupaten Kerinci tahun 2018 secara sah di ikuti oleh tiga pasangan calon. Masing-masing dari pasangan calon memiliki latar belakang wilayah yang berbeda yakni ada dua diantaranya nomor urut [1] dan [2] berasal dari Kerinci bagian Mudik dan Tengah serta pasangan calon nomor urut [3] berasal dari Kerinci bagian Hilir dan Tengah. Dengan demikian perbedaan latar belakang wilayah yang dimiliki pasangan calon justru diduga awal dari lahirnya isu politik identitas pada Pilkada Kabupaten Kerinci 2018 saat ini.

Di antara ketiga pasangan calon tersebut, hanya pasangan calon nomor urut [3] yang satu-satunya calon Bupati yang berasal dari Kerinci bagian Hilir. Sehingga membuat masyarakat yang notabenenya berasal dari Kerinci bagian Hilir memanfaatkankan momentum tersebut, dimana secara tidak langsung mengembangkan isu politik identitas ataupun lebih tepatnya fanatisme kedaerahan ini, dengan dalih mereka menganggap itu adalah sebuah keharusan juga bentuk dari loyalitas dan sikap idealis mereka.

Sehingga dengan demikian timbul lah berbagai tanggapan dari kalangan masyarakat lainnya atau masyarakat yang pola pikirnya berseberanagan. kebanyakan dari mereka berasumsi bahwa isu politik identitas seperti itu tidak seharusnya dikembangkan karena begitu sesitif, yang mana dikhawatirkan bisa menimbulkan konflik primordial yang berujung anarkis.

Namun sebaliknya kita harus berkaca pada pilkada kabupaten Kerinci sebelumnya, justru politik identitas telah lama dikembangkan, yakni pada pilkada tahun 2008. Dimana pada pilkada saat itu awal dari mulai dibangkitkannya suatu politik yang pada gerakannya berlandaskan identitas (Politik Identita), yang pada akhirnya dimenangkan oleh calon Bupati berasal dari Kerinci bagian Mudik.

Juga sama halnya yang terjadi pada pilkada Kerinci tahun 2013, juga dimenangkan oleh calon Bupati dari kerinci Bagian Mudik. Walaupun banyak pihak mengkhawatirkan akan adanya konflik yang bisa memecah belah masyarakat, namun pada akhirnya konflik tersebut bisa dihindari karena pada kenyataan masyarakat Kabupaten Kerinci memiliki sikap yang cerdas dalam menanggapi hal tersebut.

Bukan hanya saat pilkada saja politik identitas di boomingkan, kenyataannya politik identitas di Kerinci bahkan diterapkan saat masa kepemimpinan Bupati terpilih saat itu walaupun tidak sepenuhnya. Secara tidak langsung politik identitas dimainkan oleh pemegang kekuasaan tertinggi saat itu, dimana pada prakteknya, saat itu dari segala aspek lebih memprioritaskan daerah bupati terpilih yakni Kerinci bagian Mudik ketimbang daerah lainnya.

Tentu ini menjadi penyebab ataupun suatu pemicu mengapa politik identitas masih tetap diterapkan dan dikembangkan di Kabupaten Kerinci hingga saat ini. Sehingga hal ini akan sangat sulit ditepis ataupun dihilangkan.

Menurut Prof. Mahfud MD pakar hukum ketatanegaraan yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, bahwa Identitas primordial itu biasa dalam politik. Ikatan primordial itu menjadi tempat orang mengidentifikasi diri. Entah itu keagamaan, ras, suku daerah atau yang dikenal SARA. Itu biasa, Dimana-mana orang mengidentifikasikan diri. Misal, kalau orang Islam maka memilih berjuang dengan orang Islam demikian juga yang Kristen.

Demikian pula yang dari Jawa, milih orang-orang Jawa. Etnis Cina milih Cina dsbnya. Pokoknya politik identitas itu selalu muncul. Itu sebabnya ada demokrasi. Demokrasi itu untuk membuat saluran-saluran yuridis ketatanegaraan agar setiap aspirasi yang berdasarkan identitas itu tersalur dengan baik dan tanpa konflik. Oleh sebab itu saya kira tidak bisa dihindari, dimana mana juga terjadi politik identitas.

Dari penyataan Prof. Mahfud MD di atas dapat ambil kesimpulan bahwa, politik identias itu hal yang wajar dan lumrah terjadi saat adanya kontetasi politik seperti pilkada sekarang ini. Untuk menhindarinya tentu merupakan sesuatu hal yang sulit. Tergantung cerdas atau tidaknya masyarakat menanggapi ataupun mengelolanya. Kalau ada pernyataan yang mengatakan bahwa sebagai masyarakat Kabupaten Kerinci kita harus menolaknya ataupun menghilangkan bentuk dari politik identitas tersebut, tentunya ini merupakan hal yang mustahil. Karena pada dasarnya di negara Indonesia inipun pemeritahan pusatnya secara tidak langsung merupakan hasil dari politik identitas. Sehingga hal ini tentunya kembali kepada kita secara individu bagaiman cara menaggapinya secara cerdas.(*)

Penulis adalah  Aktivis Mahasiswa Universitas Jambi 


Berikan Komentar via Facebook :

Advertisement





Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /