Zakirman
Zakirman (Istimewa)

Oleh : Zakirman

“Berikan seorang anak semangkuk nasi dan kamu akan memberinya makanan untuk sehari. Ajarkan seorang anak memelihara padi dan kamu akan memberinya makanan seumur hidup”. -Ali Bin Abi Thalib RA-

Keterampilan dan kecakapan hidup yang diajarkan kepada siswa akan berguna bagi dirinya sepanjang hayat. Keterampilan dapat dilatih dan dikembangkan sedari dini kepada siswa dan dimulai saat mereka menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD). Ada banyak keterampilan yang dapat dilatih dalam diri siswa melalui proses pembelajaran di sekolah, diantaranya: berpikir kritis, berdiskusi, berkomunikasi, pemecahan masalah dan berkolaborasi.

Salah satu capaian yang wajib dikuasai siswa adalah untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Keterampilan pemecahan masalah merupakan sebuah keterampilan analisis, melatih kemampuan bernalar, menyusun strategi dan bekerja bersama dalam sebuah tim.

Dalam memecahkan masalah diperlukan keterampilan berpikir logis untuk menemukan solusi. Pentingnya keterampilan pemecahan masalah didasarkan pada beberapa alasan berikut ini, diantaranya: memiliki keterampilan pemecahan masalah memungkinkan siswa untuk menjadi pemberi solusi aktif baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, pemecahan masalah merupakan salah satu keterampilan abad 21, keterampilan pemecahan masalah akan mendukung untuk terciptanya sikap positif anak seperti percaya diri, kerjasama, jujur, dan mendukung skill akurasi.

Di Indonesia, keterampilan pemecahan masalah siswa khususnya di tingkat SD masih tergolong rendah. Hal ini dilihat dari posisi Indonesia yang berada pada urutan 4 terbawah berdasarkan hasil penilaian keterampilan pemecahan masalah yang diselenggarakan oleh badan pemantauan keterampilan pemecahan masalah dunia (TIMSS).

Model Pembelajaran Play-Think-Pair-Share (PTPS)

Untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa, diperlukan model pembelajaran yang dapat mengarahkan siswa untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalahnya. Salah satu desain pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa adalah model pembelajaran PTPS. Model pembelajaran PTPS memeliki kelebihan, diantaranya: dikembangkan sesuai dengan tahap tumbuh kembang siswa SD, penggunaan model PTPS dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa, model PTPS dapat membuat siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan adanya aktivitas bermain dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Artikel ini membahas dampak dari penerapan model PTPS terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa. Pokok utama dalam pembelajaran berbasis model PTPS adalah adanya kegiatan bermain yang dilakasanakan pada awal kegiatan pembelajaran dan memuat konten untuk melatih keterampilan siswa dalam memecahkan masalah.

Pada tingkat SD, siswa cendrung aktif belajar apabila ada penyisipan kegiatan bermain dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis kegiatan bermain efektif diterapkan di tingkat SD karena sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak dan dapat melibatkan seluruh siswa secara aktif. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ada bukti yang menekankan pembelajaran berbasis kegiatan bermain sebagai kolaborasi antara siswa dan guru yang mengarah pada hasil akademik yang positif.

Bermain memberikan banyak manfaat bagi anak, apalagi jika diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Bermain dapat mengasah kemampuan menyelidiki, mengendalikan dan karenanya sangat disarankan sebagai jalan untuk menumbuhkan keterampilan intelektual anak-anak. Melalui permainan anak-anak mempelajari informasi dan memperoleh keterampilan yang penting untuk perkembangan kognitif mereka. Bermain memberikan anak kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan pemecahan masalah dan melatih keterampilan pengambilan keputusan.

Bermain dapat mengembangkan dan melatih kekreatifan anak. Bermain merupakan bagian penting dalam proses perkembangan anak, kendaraan yang dengannya anak-anak mencari tahu tentang lingkungan, memahami diri mereka sendiri serta orang lain. Dengan adanya kegiatan bermain dalam proses pembelajaran dapat membantu anak untuk mengetahui tentang hal-hal baru, menjadi sarana mendasar yang dengannya mereka mempelajari keterampilan baru serta mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.

Penerapan Model PTPS

Penerapan model PTPS pada pembelajaran di SD dapat dicontohkan dalam materi IPA tentang magnet. Pada awal kegiatan pembelajaran siswa diajak ikut berpartisipasi dalam kegiatan bermain. Guru menyiapkan 10 buah paku yang telah diletakkan ke dalam wadah bening yang berisi air. Kemudian guru meminta kepada setiap siswa untuk berlomba mengeluarkan paku yang terdapat di dalam wadah menggunakan alat dan bahan yang tersedia pada masing-masing meja (Tahap ini dikenal dengan aktivitas Play). Aturan yang dibuat dalam permainan adalah selama kegiatan berlangsung siswa tidak diperkenankan menggunakan tangannya langsung untuk mengangkat paku dari dasar wadah yang berisi air. Siswa diminta memikirkan (Think) cara untuk mengeluarkan paku tersebut dari dalam air. Pada masing-masing meja telah tersedia alat praktikum IPA. Aktivitas yang diharapkan adalah siswa dapat menggunakan magnet untuk mengeluarkan paku dari dasar wadah yang berisi air.

Setelah masing-masing siswa memiliki ide dan solusi, kemudian guru mengarahkan siswa untuk mendiskusikan ide tersebut dengan teman sebangku (Pair), siswa dapat saling bertukar informasi dan menyanggah pendapat teman. Pada tahap akhir (Share), setelah mendapat kesepakatan mengenai solusi bersama teman sebangku, siswa diminta membagikan ide tersebut kepada teman di depan kelas.

Penerapan model PTPS dalam pembelajaran di tingkat SD terbukti dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa. Siswa yang belajar menggunakan model PTPS memiliki keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional. Adanya kegiatan bermain dapat melatih keterampilan pemecahan masalah siswa, menghilangkan efek jenuh dan bosan bagi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan bermain memungkinkan siswa untuk menyusun sebuah strategi penyelesaian masalah agar dapat memenangkan kompetisi yang sedang berlangsung dalam proses pembelajaran.

Peningkatan keterampilan pemecahan masalah siswa didukung oleh jenis permainan yang dipilih oleh guru. Jenis permainan berbasis tantangan adalah jenis permainan yang paling direkomendasikan bagi guru untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa dalam proses pembelajaran. Melalui permainan berbasis tantangan, siswa terbiasa untuk gigih dan terampil menyusun strategi. Dengan adanya tantangan yang diangkat dalam proses pembelajaran, siswa menjadi termotivasi, terbiasa dan terlatih untuk memecahkan masalah. Dalam menyelesaikan permainan berbasis tantangan, siswa juga dilatih untuk mampu berpikir dan bertindak dengan cepat.

Melalui aktivitas pembelajaran berbasis model PTPS, siswa mengikuti sebuah kegiatan permainan yang didalamnya disisipkan sebuah permasalahan sehingga menuntut siswa untuk saling bergotong royong bersama kelompok dalam memecahkan permasalahan yang ada. Bermain membuka peluang untuk siswa saling berinteraksi, bekerja sama, menumbuhkan rasa empati, musyawarah mufakat, tolong menolong, sikap kerelawanan dan membiasakan anak untuk berkomitmen atas keputusan bersama.

Temuan saat dilaksanakannya kegiatan penelitian, siswa yang belajar dengan model PTPS terlibat aktif secara keseluruhan. Semua siswa dalam setiap kelompok saling berbagi dan mengkomunikasikan solusi dalam pemecahan masalah yang terdapat pada tahapan kegiatan bermain pada model PTPS. Setiap siswa berlomba-lomba mencobakan solusi yang dianggap paling efektif dalam memenangkan permainan. Selama proses pembelajaran, guru memantau dan melakukan konfirmasi mengenai solusi yang dipilih dalam melaksanakan kegiatan bermain. Ide dan solusi dari siswa lebih bervariasi dan kreatif. Kegiatan mencoba menjadi wadah untuk menguji ide-ide yang telah dikemukakan siswa.

Setelah dilakukan pengujian dalam skala luas dengan melibatkan sampel pada 6 SD di Kabupaten Padang Pariaman, dapat disimpulkan bahwa model PTPS terbukti efektif untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa. Keberhasilan penerapan model PTPS ikut didukung oleh: kemampuan mengingat siswa yang baik, dapat melakukan pekerjaan yang menantang, kreatif dan imajinatif, pengamat yang hebat, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Aspek penting yang juga perlu diperhatikan guru saat mengimplementasikan model PTPS adalah: keheterogenan kelompok, pemantauan diskusi siswa dalam kelompok kecil (Pair) serta keaktifan siswa memberikan tanggapan pada kegiatan Share. Dengan adanya model PTPS dapat menjadi solusi alternatif yang dapat dipilih oleh guru untuk dapat mempersiapkan siswa menjadi active problem solver dimasa yang akan datang.

Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi untuk penyelesaian S-3 pada Prodi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Padang, dengan tim promotor Prof. Dr. Lufri, M.S. dan Dr. Khairani, M.Pd.

Zakirman: Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Pascasarjana UNP


Komentar

Berita Terkait

New Normal adalah Berdamai dengan Corona

WASPADA: PILKADA BERTARUH NYAWA  

Injury Time Puasa Ramadhan

INDONESIA TAK MENYERAH!

Kurikulum (Darutat) Covid-19

Perjalanan Panjang Pilkada Serentak 2020

Ketika Covid-19 Mengubah Kebiasaan

Rekomendasi




add images