JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- Suhu politik jelang perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi 9 Desember mendatang, kian meningkat.

Berbagai lobi-lobi politik dalam upaya perebutan perahu dukungan untuk bisa ikut bertarung dalam kontestasi politik paling bergensi di Provinsi Jambi ini kian intens dilakukan oleh para kandidat.

Hingga saat ini, sejumlah kandidat masih bergerilya di pusat untuk memperebutkan perahu dukungan, seperti halnya Bupati Sarolangun Cek Endra, Walikota Jambi Sy Fasha, Petahana Fachrori Umar dan Asafri Jaya Bakri (AJB). Termasuk Al Haris yang secara aturan sudah memenuhi syarat minimal dukungan.

Sejauh ini, baru pasangan Al Haris-Abdullah Sani yang sudah mengamankan tiket untuk bisa maju di Pilgub Jambi tahun ini. Ini setelah Haris-Sani mengantongi rekomendasi dukungan tiga Partai Politik (Parpol).

BACA JUGA: Ini Penjelasan H Bakri Terkait Dukungan PAN di Pilgub Jambi

Ketiga Parpol itu yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Berkarya. Dengan dukungan ketiga Parpol ini, pasangan Haris-Sani sudah memenuhi syarat minimal dukungan yakni 11 kursi di parlemen.

Kendati demikian, Bupati Merangin dua periode ini masih tak cukup puas hanya dengan dukungan tiga Parptol tersebut. Al Haris sepertinya masih intens berburu dukungan Parpol besar di pusat, salah satu partai yang menjadi incaran yakni Partai Amanat Nasional (PAN).

Tak tanggung-tangung, untuk mendapatkan perahu PAN, Al Haris dalam mengikuti tahapan penjaringan kandidat pun pernah menegaskan siap bergabung menjadi kader partai besutan Zulkifli Hasan ini. Hal tersebut merupakan keseriusannya untuk menggandeng PAN masuk Parpol koalisi pengusungnya.

Sementara calon petahana Fachrori Umar, saat ini baru mengamankan rekomendasi dukungan Partai Hanura yang hanya memiliki 2 kursi di parlemen. Selain Hanura,  Fachrori pun tampil percaya dirinya untuk mengklaim didukung oleh NasDem dan Demokrat. Ketiga Parpol tersebut diakuinya memiliki hubungan yang cukup baik dengannya sejauh ini.

Selain itu, Fachrori optimis akan didukung oleh PDIP mengingat dirinya bakal menggandeng Safrial sebagai pasangannya yang merupakan kader partai banteng tersebut.

BACA JUGA: Dukungan PDIP di Pilgub Jambi, Edi Purwanto: Kader atau Dikaderkan, yang Penting Menang

Hanya saja, partai besutan Megawati Soekarnoputri ini juga tengah diincar sejumlah kandidat diantaranya CE dan Sy Fasha. Bahkan, Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi pun digembor-gemborkan mendapat dorongan untuk maju sebagai nomor satu menggandeng Ratu Munawaroh.

Hal ini membuat Fachrori harus berpikir keras untuk meyakinkan PDIP untuk bisa mendapatkan dukungan dengan manggandeng kader seperti Safrial.

Sementara, Walikota Jambi Sy Fasha sejauh ini baru mengantongi rekomendasi dukungan awal atau surat tugas dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 3 kursi di DPRD Provinsi Jambi.

Sedikitnya, orang nomor satu di Kota Jambi ini harus mendapatkan tambahan perahu dukungan minimal 8 kursi. Hanya saja, Sy Fasha sepertinya sudah mengamankan perahu dukungan Partai Gerindra dengan 7 kursi di parlemen.

Untuk mencukupi syarat minimal dukungan, Sy Fasha pun mensyaratkan kepada calon wakilnya untuk bisa membawa partai tambahan. Sejauh ini, Fasha digadang-gadang bakal menggandeng Walikota Sungai Penuh Asafri Jaya Bakri (AJB) yang merupakan kader Partai Demokrat.

Namun, saat ini AJB sepertinya masih berjuang untuk bisa mendapatkan tiket dukungan Partai Demokrat untuk bisa mendampingi Fasha dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

Sebagai catatan, hanya AJB satu-satunya kader internal Demokrat yang ikut bertarung di Pilgub Jambi. Selain itu, ia juga merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Demokrat Provinsi Jambi. Kans AJB untuk meraih dukungan Demokrat masih terbuka lebar.

Kendati demikian, baru-baru ini Sy Fasha digembor-gemborkan bakal membuka peluang untuk menggandeng kader PAN untuk menduduki perahu dukungannya.

Dengan jumlah 7 kursi di parlemen, partai berlambangkan matahari terbit ini pun punya sejumlah kader potensial untuk digandeng. Seperti halnya Ratu Munawaroh yang sudah menyatakan bakal maju sebagai Cawagub.

Selain itu, ada juga nama Bupati Kerinci Adirozal yang mana menurut hasil survei internal PAN, elektabilitas dan popularitas Adirozal sendiri cukup baik. Kedua kader PAN ini pun disebut-sebut bakal dipinang salah satunya oleh Sy Fasha sebagai pasangan.

Dengan dukungan Partai Gerindra, PPP dan PAN, tentunya Sy Fasha disapastikan ikut melenggang dalam kontestasi politik Pilgub Jambi Desember mendatang. Apalagi, teranyar Fasha juga disebut-sebut tengah menjalin komunikasi intens dengan Partai NasDem.

Disisi lain, Bupati Sarolangun Cek Endra sudah jauh hari kepincut dan menyatakan bakal menggandeng Ratu Munawaroh sebagai wakilnya. Bahkan, CE pun sempat meminta izin kepada Ketua DPW PAN Provinsi Jambi H Bakri untuk meminang Ratu saat menyerahkan formulir pendaftaran penjaringan kandidat di DPW PAN Provinsi Jambi belum lama ini.

Hanya saja, Bakri sendiri menegaskan bahwa semua kandidat yang mendaftar dalam penjaringan kandidat berpeluang sama untuk mendapatkan dukungan. Hal ini pun tergantung keputusan DPP sendiri.

CE sendiri merupakan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi yang memiliki 7 kursi di parlemen. Melihat peta politik diatas, peluang CE sendiri untuk bisa melenggang di Pilgub Jambi apabila bisa mengamankan perahu dukungan PAN yang saat ini menjadi rebutan para kandidat.

Kendati demikian, CE sepertinya juga masih bergerilya di pusat untuk mendapatkan PDIP. Untuk memuluskan langkah itu, Ratu Munawaroh pun disebut-sebut bakal bergabung dengan partai berlambangkan kepala banteng tersebut.

Pengamat Politik Jambi, Dori Efendi, mengatakan, yang terjadi saat ini sebenarnya adalah krisis kader untuk dimajukan sebagai kandidat oleh Partai politik besar, seperti PAN, PDIP, Partai Gerindra dan Partai Demokrat.

"Makanya sekarang banyak Parpol yang tidak bisa mengajukan calon gubernur, tapi hanya mampu mengajukan calon wakil gubernur," katanya.

Ketika tidak punya kandidat nomor satu, tetapi untuk meletakkan kandidat mereka nomor dua tentu para ketua partai ini meminta jelas persetujuan politiknya.

"Itupun masih tarik ulur. Artinya disini mahar politiknya harus jelas, karena para ketua Parpol tentu tidak mau rugi," ungkapnya.

Seharusnya, kata Dori, partai politik besar ini sudah mampu mengajukan calon mereka lebih dulu dari partai menengah ke bawah seperti halnya PKB, PKS bahkan Berkarya.

"Harus berani mendeklarasikan kandidat mereka ataupun menyodorkan kader untuk nomor dua," tegasnya.

Seharusnya dalam politik itu Parpol itu wajib mengusung kader sendiri dalam kontestasi, karena tujuannya untuk menang yang diakhiri dengan kekuasaan.

"Ketika menang dengan kader sendiri, maka mereka yang akan berkuasa dari semua kebijakan politik. Tapi persoalan nya partai besar saat ini krisis kader," ujarnya.

Sehingga, kata Dori, santer isu adanya kemungkinan Parpol ini untuk naturalisasi kandidat untuk menjadi kader agar bisa diusung sebagai nomor satu, bukan hanya nomor dua atau calon wakil.

Ditanya prediksi berapa kandidat yang bakal bertarung di Pilgub Jambi tahun ini, Dirinya mengatakan, peluang untuk empat pasangan masih terbuka lebar.

"Peluang empat pasangan tetap ada, tapi  kemungkinan hanya tiga pasangan cukup kuat," jelasnya.

Bahkan, petaha Fachrori Umar bisa batal maju jika memang tidak bisa bertarung sengit mendapatkan perahu dukungan yang tersisa saat ini dengan kandidat lainnya.

"Petahana belum konfiden hingga saat ini. Kalau konfiden, tidak mungkin disalib sama Haris yang sudah mengantongi dukungan," tukasnya.

Pengamat Politik Jambi, Bahren Nurdin, menyebutkan, melihat sebaran kursi partai di parlemen, saat ini hanya tersisa 8 partai lagi, setelah tiga partai yakni PKS, PKB dan Berkarya diamankan Haris-Sani.

Menurutnya, PDI-P paling tidak ada dua kader militan yang ‘berhak’ mendapatkannya yaitu Abdullah Sani dan Safrial, walaupun hampir semua bakal calon mendaftarkan diri.

"Namun Safrial sendiri sudah jauh hari digadang-gadang bakal mendampingi Fachrori. Namun tentunya hal ini belum final," jelasnya.

Tapi ingat, kata Bahren, FU harus berani meyakinkan PDI-P untuk bisa maju di Pilgub Jambi bersama Safrial. "Dan, Safrial harus pula benar-benar dapat restu dari PDIP karena Abdullah Sani juga punya harapan yang sama," jelasnya.

Sementara Fasha, jika benar menggandeng Ratu atau Adirozal, maka AJB akan ditinggal. Kendati demikian, setidaknya Fasha sudah bisa mencukupi syarat dukungan Parpol dan memupuskan harapan kandidat lainnya untuk mendapatkan PAN.

"Tentu saja akan membuat sejumlah kandidat akan galau, salah satunya CE. Karena memang jauh-jauh hari CE sudah berusaha mengamankan PAN dan siap menggandeng Ratu Munawaroh," bebernya.

CE sendiri hanya memiliki 7 kursi dari Golkar, tentunya segala upaya untuk memperebutkan perahu PAN akan dilakukannya melihat peta politik diatas.

"CE hanya punya Golkar, setidaknya harus dapat 4 kursi dukungan lagi. Harapannya memang PAN bisa direbut," sebutnya.

Akhirnya, politik itu dinamis yang akan terus bergerak seiring jarum jam. Tapi haruslah dicatat, apa pun analisisnya dan siapa pun berpasangan dengan siapa, yang rakyat inginkan cuma satu yaitu pemimpin yang mampu membawa kesejahtaraan.

"Kita lihat saja alurnya, kita tentu berharap semakin banyak calon akan semakin bagus demokrasi kita," tukasnya.

Disisi lain, Ketua DPW PAN Provinsi Jambi, H. Bakri, mengatakan, bahwa proses penentuan arah dukungan partai matahari terbit masih tengah berproses di DPP.

"Kita sudah laksanakan penjaringan kandidat, kita tidak ikut campur lagi, itu ranahnya DPP yang menentukan lagi," jelasnya. "Belum selesai, masih digodok DPP," tambahnya lagi saat dikonfirmasi harian ini belum lama ini.

Ditanyakan apakah PAN akan mutlak mendukung kandidat yang notabene merupakan kader sendiri?, Bakri enggen berkomentar banyak. "Kader kita menunggu instruksi dari DPP. Keinginan PAN harus menang," bebernya.

Dirinya berharap, arah dukungan PAN akan dikeluarkan DPP dalam waktu dekat ini. "Mudah-mudahan dalam bulan ini sudah putus rekomendasi dukungan," tukasnya.

Terpisah, Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi, Edi Purwanto, mengatakan, hingga saat ini semua kandidat yang mendaftar dalam tahapan penjaringan beberapa waktu lalu berpeluang diusung oleh PDI Perjuangan.

"Proses di Jambi sudah, kini sedang digodok DPP. Kita tunggu saja keputusan finalnya ada di DPP," tegasnya saat ditemui koran ini di ruang kerjanya di DPRD Provinsi Jambi, kemarin (29/6).

Edi pun menegaskan, bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan apkah nantinya akan mengusung kader sendiri atau kader naturalisasi di Pilgub Jambi kali ini.

"Kader atau dikaderkan bisa saja. Nomor satu atau dua tidak masalah sepanjang untuk kepentingan masyarakat Jambi," katanya.

"Yang penting bagi kita adalah menang," tambahnya.

Ditanya terkait isu santer saat ini mencuat pasangan ERA Baru Jambi (Edi Purwanto dan Ratu Munawaroh) bakal berpasangan, Edi, enggan berkomentar banyak. Dia menyebutkan, semuanya tergantung perintah DPP.

"Itu semuanya terserah DPP. Kalau boleh milih, Saya mau tetap jadi ketua DPRD Provinsi Jambi," jelasnya.

Hanya saja, sebagai kader tentu akan mengikuti setiap perintah yang diamanahkan partai kepada dirinya. "Kalau DPP menginginkan saya, tentu saya tidak bisa memilih," tukasnya. (wan)


Komentar

Rekomendasi




add images