iklan FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.

“Inflasi di berbagai negara itu mengalami perlambatan yang signifikan bahwa banyak yang mengalami deflasi yang menunjukkan bahwa sisi permintaan itu masih sangat lemah sehingga tentunya ini nanti akan berpengaruh kepada konsumsi rumah tangga,” kata dia.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sendiri pada Kuartal III/2020, berdasarkan data BPS masih berada dalam zona negatif. BPS juga mencatat konsumsi rumah tangga saat itu negatif 4,04 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan kuartal II/2020, sektor konsumsi rumah tangga tidak mengalami kontraksi yang cukup dalam, yang mengalami pertumbuhan -5,52 persen.

Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III/2020 mengalami -3,49 persen (yoy), mengalami perbaikan dari PDB pada kuartal II/2020 yang sebesar -5,32 persen.

Sementara itu, Ekonom Konstitusi Defiyan Cori berpendapat, terpuruknya ekonomi Indonesia, terutama yang berkaitan dengan konsumsi masyarakat sebaiknya tidak selalu dikaitkan dengan situasi pandemi covid-19 saja. Namun juga kinerja ekonomi makro memang sudah cukup memprihatinkan.

Karenanya, tidak mengherankan kinerja perekonomian semakin merosot tajam. Ia beranggapan, salah satu penyebab kemerosotan itu adalah karena strategi pembangunan yang telah salah menempatkan skala prioritas, sehingga tak menghasilkan nilai tambah produksi dan daya ungkit (leverage factor) yang signifikan bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Defiyan pun mengutip publikasi BPS, bahwa pada bulan Januari 2021 tingkat inflasi mencapai 0,26 persen. Dari 90 kota yang jadi acuan Indeks Harga Konsumen (IHK), 75 kota mengalami inflasi, sedangkan 15 kota lainnya mengalami deflasi.

“Dapat dipastikan, bahwa inflasi bulan Januari 2021 yang tercatat sebesar 0,26 persen tidaklah menunjukkan adanya tekanan dari sisi pasokan dibanding sisi permintaan. Yang terjadi justru adanya kelebihan pasokan di dalam negeri untuk komoditas tertentu (konsumsi), sementara impor bahan pangan masih terus mengalir ke wilayah perkotaan,” ujar Defiyan.


Berita Terkait



add images