iklan Personel gabungan Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan Pemprov DKI menambah titik penyekatan selama Pemberlakuan Pembatasan...
Personel gabungan Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan Pemprov DKI menambah titik penyekatan selama Pemberlakuan Pembatasan...

Belanja di restoran dan department stores perlahan mulai meningkat, meski masih di bawah 100 level normal sebelum pandemik. Pada kelompok belanja restoran dan Department Stores mulai naik perlahan seiring pelonggaran mobilitas. Pada 15 Agustus 2021, indeks belanja terkait restoran berada di tingkat 94,8; angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan situasi di 1 Agustus 2021. Sementara itu belanja di ritel-ritel yang terkait kebutuhan rumah tangga dan supermarket tampaknya tidak terdampak cukup dalam semasa PPKM Darurat.

Angka kunjungan ke tempat belanja juga mengalami kenaikan. Melalui data Google Maps di akhir bulan Agustus 2021 tanggal 22-28 Agustus 2021, angka kunjungan ke tempat perbelanjaan pada 9 kota besar sudah kembali ke situasi awal Juli, yaitu 63 persen pada jam sibuk. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan situasi pada 1-11 Agustus di mana angka kunjungan ke tempat belanja berada di tingkat 60 persen dari normal di jam sibuk. Kenaikan angka kunjungan di tempat belanja di dominasi oleh kenaikan kunjungan di shopping mall, terutama shopping-mall di daerah Jabotabek.

“Data dikumpulkan dari 6748 tempat belanja yang tersebar di 9 kota besar, yaitu Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Medan, Makassar, Surabaya, Bandung dan Denpasar,” jelasnya.

Pada periode 22-28 Agustus 2021, angka kunjungan ke restoran di 8 kota besar juga mengalami kenaikan drastis. Kunjungan ke restoran pada periode ini melonjak ke tingkat 62 persen dari sebelumnya anjlok dan berada di tingkat 39 persen pada 1-11 Agustus 2021. Data ini berasal dari 7828 restoran yang tersebar di 8 kota besar, yaitu Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Medan, Makassar, Surabaya, dan Denpasar.

“Seluruh data menunjukkan sinyal pemulihan di tengah penurunan kasus COVID-19. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi dapat dicapai. Tantangan terbesar adalah mempertahankan keseimbangan ini ke depan. Monitoring mobilitas, kasus dan kondisi ekonomi secara reguler dan mutakhir amat diperlukan. Selain itu, vaksinasi dan distribusi vaksin yang lebih baik, terutama untuk daerah luar Jawa diperkirakan akan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (fin)


Sumber: www.fajar.co.id

Berita Terkait



add images