iklan Ilustrasi
Ilustrasi

JAMBIUPDATE.CO,JAKARTA– Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (1/10/2021). Pelaku pasar mengapresiasi program pengampunan pajak (Tax Amnesty) jilid II yang digelar Pemerintah Indonesia pada tahun 2022 mendatang.

Mengutip data Bloomberg, pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.307 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan 5 poin atau 0,03 persen, jika dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Kamis sore kemarin (30/9/2021) di level Rp14.312 per dolar AS.

Sementara itu kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di posisi Rp14.315 per dolar AS atau menguat dari sesi perdagangan sebelumnya, Rp14.315 per dolar AS.

Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar merespons positif keseriusan pemerintah yang akan kembali menggelar Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) Jilid II.

“Dengan rencana ini, wajib pajak dapat mengungkapkan harta bersih yang belum atau kurang diungkapkan dalam surat pernyataan kepada negara,” kata Ibrahim dalam publikasi riset hariannya.

Pemerintah memang akan kembali menggelar Program Pengampunan Pajak. Dengan rencana ini, wajib pajak dapat mengungkapkan harta bersih yang belum atau kurang diungkapkan dalam surat pernyataan kepada negara.

Kebijakan ini tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang telah disepakati di DPR untuk dibawa ke sidang paripurna untuk disahkan.

Program Tax Amnesty ini tercantum dalam Pasal 5. Hal ini bisa dilakukan selama Direktorat Jenderal Pajak (DJP) belum menemukan data dan informasi mengenai harta tersebut.

Tax Amnesty tersebut akan berlaku pada 1 Januari 2022. Perihal pengampunan pajak di dalam RUU HPP bukan dinamakan Tax Amnesty. Tapi program pengungkapan sukarela wajib pajak.

Penguatan kurs rupiah berlangsung tipis hari ini karena pada saat yang sama masih ada tekanan dari faktor eksternal yang mendorong dolar AS menguat. Pelaku pasar cemas dengan kondisi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang terancam akan mengalami shutdown (penutupan) pemerintah federal dan gagal bayar (default). Hal ini terjadi jika legislatif tidak segera mengetuk palunya untuk mengesahkan RUU kenaikan batas utang hingga tanggal 1 Oktober 2021.

“Ini membuat Greenback dipandang sebagai tempat berlindung yang aman oleh investor pada saat tekanan pasar menguat dalam beberapa hari terakhir akibat masalah ini,” ujar Ibrahim.

Berdasarkan data dari Statista, per Agustus lalu, nilai utang AS sebenarnya mencapai USD28,427 triliun. Ini nyaris sama dengan bulan sebelumnya, tetapi turun cukup jauh dari bulan Juni USD28,529 triliun.

Namun, US Debt Clock, melihat posisi real time utang AS saat ini mencapai USD28,781 triliun atau Rp 40.129 triliun. Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), utang tersebut sebesar 125 persen dari PDB AS.

Saat ini batas utang AS mentok di USD28,4 triliun. Sebelumnya isu kenaikan plafon utang menjadi masalah di era Presiden AS ke-45, Donald Trump, di mana pemerintahan shutdown selama 35 hari pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

“Selain itu, pelaku pasar juga khawatir The Federal Reserve akan mulai menarik dukungan pelonggaran kebijakan moneter tepat saat pertumbuhan ekonomi global melambat,” tutup Ibrahim.

Sedangkan untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp.14.290 – Rp.14.320 per Dolar AS. (git/fin)


Berita Terkait



add images