iklan Ilustrasi
Ilustrasi

Tax Amnesty tersebut akan berlaku pada 1 Januari 2022. Perihal pengampunan pajak di dalam RUU HPP bukan dinamakan Tax Amnesty. Tapi program pengungkapan sukarela wajib pajak.

Penguatan kurs rupiah berlangsung tipis hari ini karena pada saat yang sama masih ada tekanan dari faktor eksternal yang mendorong dolar AS menguat. Pelaku pasar cemas dengan kondisi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang terancam akan mengalami shutdown (penutupan) pemerintah federal dan gagal bayar (default). Hal ini terjadi jika legislatif tidak segera mengetuk palunya untuk mengesahkan RUU kenaikan batas utang hingga tanggal 1 Oktober 2021.

“Ini membuat Greenback dipandang sebagai tempat berlindung yang aman oleh investor pada saat tekanan pasar menguat dalam beberapa hari terakhir akibat masalah ini,” ujar Ibrahim.

Berdasarkan data dari Statista, per Agustus lalu, nilai utang AS sebenarnya mencapai USD28,427 triliun. Ini nyaris sama dengan bulan sebelumnya, tetapi turun cukup jauh dari bulan Juni USD28,529 triliun.

Namun, US Debt Clock, melihat posisi real time utang AS saat ini mencapai USD28,781 triliun atau Rp 40.129 triliun. Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), utang tersebut sebesar 125 persen dari PDB AS.

Saat ini batas utang AS mentok di USD28,4 triliun. Sebelumnya isu kenaikan plafon utang menjadi masalah di era Presiden AS ke-45, Donald Trump, di mana pemerintahan shutdown selama 35 hari pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

“Selain itu, pelaku pasar juga khawatir The Federal Reserve akan mulai menarik dukungan pelonggaran kebijakan moneter tepat saat pertumbuhan ekonomi global melambat,” tutup Ibrahim.

Sedangkan untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah dibuka  berfluktuatif, namun  ditutup melemah  di rentang   Rp.14.290 – Rp.14.320 per Dolar AS. (git/fin)


Sumber: www.fin.co.id

Berita Terkait



add images