iklan Anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi, Usman Halik.
Anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi, Usman Halik.

JAMBIUPDATE.CO, MUARO JAMBI-Hasil uji laboratorium atas sampel makanan yang disajikan pada Jumat (30/1) lalu, mengonfirmasi adanya dua bakteri berbahaya, yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (E. coli).

“Yang menyebabkan keracunan itu dua bakteri, Staphylococcus aureus dan E. coli,” katanya Ketua Satgas MBG Muaro Jambi, Budhi Hartono, Kamis (19/2).

BACA JUGA: LPG 3 Kg Langka di Sarolangun, Diskoperindag Minta Warga Aktif Laporkan Penyimpangan Distribusi

Berdasarkan hasil investigasi dan pendalaman yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Muaro Jambi, dapat disimpulkan bahwa kontaminasi Staphylococcus aureus bersumber dari proses pengolahan makanan yang tidak higienis.

Anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi, Usman Halik, mendesak pemerintah dan pihak terkait memberikan sanksi tegas jika terbukti terjadi kelalaian.

BACA JUGA: Kontaminasi Bakteri pada Makanan jadi Penyebab Keracunan MBG di Muaro Jambi

Menurutnya, kasus ini menyangkut keselamatan anak-anak serta kredibilitas program strategis nasional.

“Kalau memang akibat kelalaian, pengelolanya harus diganti. Tidak bisa hanya sekadar minta maaf,” ujarnya.

Ia juga menyoroti temuan kontaminasi pada air sumur bor yang diduga telah berlangsung lama, kemungkinan akibat pencemaran lingkungan atau limbah, sehingga menunjukkan standar fasilitas belum terpenuhi secara menyeluruh.

BACA JUGA: Selama Ramadhan, ASN Pemkab Sarolangun Pulang Lebih Awal

DPRD berharap peristiwa serupa tidak terulang dan seluruh pihak terkait meningkatkan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. "Jadi memang harus dievaluasi dan diberi sanksi," tegasnya lagi. 

Sebelumnya, dugaan mengarah pada kelalaian penjamah makanan dan penerapan standar kebersihan yang longgar. Adapun bakteri E. coli, kata dia, diduga berasal dari air yang digunakan dalam proses produksi.

Bakteri Staphylococcus aureus ditemukan pada beberapa sampel makanan, seperti tahu dan toge dari bank sampel, serta ayam suwir dan kol dari sisa makanan siswa. Sementara itu, E. coli terdeteksi pada sampel bihun sisa konsumsi siswa kelas 1 hingga 3. Bahkan, kombinasi kedua bakteri tersebut juga ditemukan pada sampel ayam suwir dari bank sampel.


Berita Terkait



add images