JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- Edukasi mengenai kebakaran hutan tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah. Melalui seni pertunjukan, pesan tentang pentingnya menjaga hutan dapat dikemas menjadi pengalaman yang dekat dengan dunia anak-anak. Gagasan itulah yang diusung melalui program "Rimba Bercerita: Teater Boneka Edukasi Kebakaran Hutan”.
Program ini merupakan salah satu kegiatan yang lolos dalam skema Program Inovasi Seni Nusantara Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Tahun 2026. Kegiatan dikembangkan oleh tim dari Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi yakni Galuh Tulus Utama (Program Studi Seni, Drama, Tari, dan Musik) sebagai ketua serta Dwi Rahariyoso (Program Studi Sastra Indonesia), Hanif Risa Mustafa (Program Studi Ilmu Sejarah), dan Masvil Tomi (Program Studi Karawitan) sebagai anggota.
BACA JUGA: Kadis dan Kabid GTK Disdik Kota Jambi Mengundurkan Diri, Hard Copy Suratnya Sudah di BKPSDMD
Selaku ketua tim, Galuh mengatakan, program tersebut dirancang untuk mempertemukan seni pertunjukan dengan pendidikan lingkungan, khususnya dalam mengenalkan persoalan kebakaran hutan kepada siswa sekolah dasar.
“Kami ingin menyampaikan persoalan kebakaran hutan melalui bahasa yang dekat dengan anak-anak. Karena itu, kami menggunakan tokoh-tokoh satwa, musik, gerak, tari, dan teater boneka agar pesan lingkungan tidak terasa seperti sebuah ceramah,” ujar Galuh.
“Rimba Bercerita dijadwalkan dipentaskan pada 15 September 2026 di SDN 76/IX Mendalo Darat, Jambi Luar Kota. Pemilihan sekolah tersebut berkaitan dengan kedekatannya dengan Sanggar Seni CeWaArt, yang menjadi mitra sekaligus pelaksana lapangan program.
Sanggar Seni CeWaArt yang berada di Perumahan Puri Masurai 2 Blok Q 1 juga menjadi ruang kreatif bagi para pemain untuk mempersiapkan pertunjukan. Proses persiapan dilakukan melalui latihan secara bertahap dan intensif.
BACA JUGA: Motif Penganiayaan yang Tewaskan Brigadir EWS Masih Misterius, Polda Jambi Dalami Penyidikan
Menurut Galuh, hutan dalam pertunjukan tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai latar cerita, tetapi sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan manusia dan satwa.
“Kami mencoba mengajak anak-anak melihat bahwa ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya pohon. Ada satwa yang kehilangan habitat, kehilangan tempat tinggal, dan ekosistem yang ikut terganggu,” katanya.
Pesan mengenai kebakaran hutan, kerusakan habitat, hilangnya tempat tinggal satwa, hingga terganggunya keseimbangan alam diterjemahkan melalui karakter-karakter boneka satwa. Dialog, musik, tari, dan gerak boneka dipadukan menjadi satu pertunjukan yang diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif.
BACA JUGA: ADYA Group Banjiri Bonus di Lomba Panjat Pinang HUT Ke-81 RI
Dalam proses persiapannya, tim bersama pemain melakukan sejumlah tahapan latihan. Tahap awal berupa kurasi pemain berdasarkan kebutuhan karakter dan komposisi pertunjukan. Setelah itu, pemain menjalani olah tubuh untuk melatih kemampuan menghidupkan boneka berukuran besar melalui gerak dan gestur yang terkoordinasi.
Latihan kemudian dilanjutkan dengan olah vokal yang mencakup artikulasi, intonasi, ekspresi, dan volume suara. Kemampuan tersebut menjadi penting karena pertunjukan ditujukan kepada siswa sekolah dasar yang cenderung memberikan respons spontan terhadap setiap adegan yang mereka saksikan.
Tahap berikutnya adalah pendalaman cerita dan pembacaan naskah. Para pemain tidak hanya dituntut menghafal dialog, tetapi juga memahami karakter, membangun relasi antartokoh, serta menentukan blocking setiap adegan. Seluruh unsur pertunjukan kemudian dipadukan melalui gladi bersih dan evaluasi secara berkelanjutan.
Galuh berharap “Rimba Bercerita” tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, tetapi dapat menjadi media untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak usia dini.
“Harapannya, anak-anak bukan hanya tahu bahwa kebakaran hutan itu berbahaya, tetapi juga bisa membayangkan bagaimana kehidupan satwa ketika rumah mereka hilang dan bagaimana keseimbangan alam ikut terganggu,” ungkapnya.
Program yang melibatkan unsur akademisi, komunitas seni, dan sekolah ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara seni, pendidikan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dari panggung teater boneka, suara satwa dalam “Rimba Bercerita” diharapkan dapat menjadi suara bagi hutan sekaligus mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan menjaga lingkungan. (aiz)
