iklan Pengorbanan di Balik Tugas Pemadam Karhutla: Rindu yang Menunggu di Rumah
Pengorbanan di Balik Tugas Pemadam Karhutla: Rindu yang Menunggu di Rumah

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Martina Sari Silitonga (37) masih mengingat masa ketika anak pertamanya mulai memasuki sekolah. Saat itu, sekolah menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari yang membutuhkan pendampingan orang tua. Selain itu, terdapat pertemuan orang tua murid untuk menyosialisasikan berbagai peraturan sekolah.

Namun, di tengah momen penting tersebut, Martina harus menjalani persalinan anak ketiganya. Ia berharap suaminya, Aryanto Aritonang (39), bisa menggantikan perannya untuk mendampingi anak sulung mereka mengikuti kegiatan sekolah.

BACA JUGA: Kecelakaan Beruntun Tiga Truk di Lingkar Selatan Jambi, Satu Sopir Tewas

Harapan itu tidak dapat terwujud. Aryanto sedang menjalankan tugas sebagai petugas pemadam karhutla, pekerjaan yang menuntutnya selalu siap ketika penugasan datang, termasuk harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu.

Aryanto merupakan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Wirakarya Sakti (WKS), Distrik Sei Tapah, Jambi. Tugasnya memadamkan kebakaran di lapangan membuat kehadirannya di rumah tidak selalu bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.

BACA JUGA: Empat Pemkab di Jambi Dapat Tambahan Banpres Rp40 Miliar untuk Penanganan Karhutla

"Papanya tidak bisa mendampingi anak kami yang nomor satu waktu baru masuk sekolah. Ada MPLS selama tiga hari yang mengharuskan orang tua mendampingi, juga pertemuan orang tua murid. Saat itu saya bertepatan melahirkan, jadi saya benar-benar berharap papanya bisa ikut," tutur Martina.

Bagi Martina, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang ketidakhadiran suami saat persalinan. Ada dua peristiwa penting dalam keluarga yang berlangsung hampir bersamaan, yakni kelahiran anak ketiga dan langkah pertama anak sulung memasuki dunia sekolah.

Dalam situasi itu, Martina harus menjalani persalinan sekaligus memikirkan kebutuhan anak-anaknya yang lain. Sementara Aryanto tidak dapat berada di sisinya karena tanggung jawab pekerjaan.

BACA JUGA: Kasus ISPA di Tanjabtim Tembus 22.868, Sebanyak 2.871 Balita Terdampak

Kini, Martina dan Aryanto memiliki tiga anak berusia tujuh tahun, tiga tahun, dan empat bulan. Mengasuh anak yang mulai bersekolah, seorang balita, dan bayi sekaligus tentu membutuhkan perhatian dan tenaga yang tidak sedikit.

Ketika Aryanto berada di rumah, keduanya bisa berbagi peran dalam mengurus anak. Namun, keadaan berubah saat ia mendapat penugasan pemadaman yang mengharuskannya pergi dalam waktu lama.

Bagi Martina, tantangan terberat bukan sekadar rasa rindu kepada suami. Ia juga kehilangan pasangan untuk berbagi tanggung jawab dalam mendidik anak, menghadapi persoalan sehari-hari, hingga mengambil keputusan penting bagi keluarga.

BACA JUGA: Program Pemprov Pro Jambi Cerdas : Ratusan Siswa di Kota Jambi Terima Bantuan Peralatan Belajar hingga SPP

"Kalau saya sebagai istri, yang paling berat adalah kehilangan partner dalam mendidik atau membesarkan anak. Mau tidak mau, saya harus merangkap menjadi papa," ungkap Martina.

Situasi menjadi semakin sulit ketika muncul persoalan mendesak yang membutuhkan keputusan segera. Dalam kondisi seperti itu, Martina harus menentukan sendiri langkah yang perlu diambil, tanpa selalu bisa menunggu suaminya pulang atau berdiskusi secara langsung.

Ketidakhadiran Aryanto juga dirasakan anak-anak. Mereka merindukan kesempatan bermain bersama ayah, bertamasya, diantar ke sekolah, hingga mengikuti kegiatan ibadah bersama. Aktivitas sederhana yang biasanya dilakukan bersama Papa justru menjadi hal yang dinantikan ketika penugasan berlangsung panjang.


Berita Terkait



add images