iklan Ilustrasi warga berolahraga dengan bersepeda
Ilustrasi warga berolahraga dengan bersepeda ((Dery Ridwansah/JawaPos.com))

Sebaiknya, usahkan melakukan latihan lower intensity agar dapat menggunakan cadangan lemak. karena proses ini membutuhkan adaptasi dari yang semula memanfaatkan gula.

Pilihan ketiga, latihan setelah berbuka. Ini bisa menjadi pilihan aman, karena bisa makan dan minum kapanpun. Hanya saja, waktu sempit karena menjelang shalat tarawih.

Andhika menyarankan tak langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa agar nutrisi makanan cepat terserap tubuh.

Pilih yang intensitas rendah. Sebenarnya, masih bisa latihan setelah shalat tarawih, tetapi cenderung dekat ke waktu tidur.

Olahraga menjelang jam tidur tidak disarankan karena bisa mengganggu tidur.”Usai olahraga itu afterburn, masih ngos-ngosan, keringatan, enggak ngantuk, tidurnya mundur akhirnya sahurnya bablas,” kata Andhika.

Hal senada dikemukakan pakar gizi klinik dari Universitas Indonesia, Putri Sakti.

Dia juga tak menyarankan berolahraga mendekati jam tidur. Selain itu, sesuaikan waktu berolahraga dengan kondisi udara dan pakaian.

Andhika tidak merekomendasikan mengenakan jaket plastik apalagi saat berpuasa dengan tujuan untuk membakar lemak lebih banyak melalui keringat.Menurutnya, tidak ada hubungan antara pembakaran lemak dan keringat. Sebaiknya, pilihlah pakailah yang menyerap keringat sehingga tidak menyebabkan dehidrasi saat berpuasa.

Terakhir, usahakan mendapatkan waktu tidur yang cukup. Latihan fisik membutuhkan pemulihan agar Anda bisa mendapatkan manfaat darinya.

Dia menyarankan Anda tidur selama 7-8 jam per hari. Saat Ramadan, bisa menyempatkan tidur satu jam lebih awal, tidur satu jam setelah shalat subuh dan sempatkan tidur siang selama satu jam.(Antara/jpnn/fajar)


Sumber: www.fajar.co.id

Berita Terkait



add images