iklan Tersangka Bagus (kiri) dan Wardi di Mapolda Jatim.
Tersangka Bagus (kiri) dan Wardi di Mapolda Jatim. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Dalam menjalankan aksinya, pemuda 26 tahun itu tidak sendiri. Bagus menggandeng Wardi. Warga Bangkalan tersebut berperan mencari peminat ijazah palsu lewat media sosial. Namun, harga yang dipatoknya lebih mahal daripada Bagus. ”Bisa dibilang makelar. Harganya dinaikkan agar mendapat untung,” kata Zulham.

Wardi sejauh ini sudah berhasil menjual 6 lembar ijazah palsu. Perinciannya, 2 ijazah SMA dan 4 ijazah S-1. Ijazah SMA dijual dengan harga Rp 1,4 juta. Adapun harga ijazah S-1 Rp 2,5 juta. ”Kasusnya masih akan terus dikembangkan. Bisa jadi komplotannya tidak hanya dua orang,” tandasnya. 

Tanda Tangan Rektor Bikin Sendiri

Proses pembuatan ijazah palsu yang dibongkar polisi cukup sederhana. Kasubdit Siber Polda Jatim AKBP Wildan Albert menuturkan, peralatan yang digunakan tersangka tak terlalu rumit. Di antaranya, komputer, printer, dan kertas film.

Wildan menjelaskan, peminat ijazah palsu semula diminta menyerahkan data diri dan almamater yang dipilih. ’’Oleh tersangka, data itu diolah,’’ ujarnya.

Bagus Prasetyo, tersangka pembuat ijazah palsu, mencari logo almamater yang diinginkan peminat di internet. Termasuk desain ijazah yang akan dipakai. Dia lantas mengolahnya dengan aplikasi Adobe Photoshop.

Tersangka juga melengkapi nama pimpinan lembaga pendidikan tersebut. Misalnya, kepala sekolah atau rektor. Nama itu dicari di internet, sedangkan tanda tangannya dibuat sendiri. ’’Ngarang saja,’’ ucap polisi dengan dua melati di pundak tersebut.


Berita Terkait



add images