Jikapun di kaitkan dengan janji kampanye, sebagai contoh membangun 1000 tower internet gratis. Anggap dalam setahun ada 300 hari kerja efektif, maka di kali 3 tahun akan ada 900 hari kerja efektif. Setiap hari setidaknya harus selesai pembangunan 1 unit tower internet. Ini masih hitungan di atas kertas ya, belum memasukkan faktor penghambat seperti cuaca, mobilisasi material, kendala kerja di lapangan, proses tender, hingga ketersediaan anggarannya.
Karena janji ini bukanlah hikayat Candi Prambanan yang selesai pembangunannya dalam semalam, maka kembali penulis tegaskan ini sangat berat. Belum lagi di tahun politik 2024, Haris - Sani tentu akan di sibukkan kembali dengan aktivitas persiapan melanggengkan kursi empuk BH 1 periode kedua. Jelas, keterbatasan waktu masa jabatan akan menjadi tantangan berat buat Haris - Sani.
Kedua, relevansi terhadap anggaran pembangunan Jambi. sebagai catatan, Dalam laporan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Jambi yang disampaikan Akmaluddin, diketahui porsi APBD tahun anggaran 2021 yakni pendapatan Rp4.294.675.328.808,00. Belanja daerah Rp4.516.148.844.342,00. Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat Rp2.785.847.932.488,00 dan Pembiayaan Rp239.473.515.534,00.
Pendapatan daerah diproyeksikan Rp 4.294.675.328.808,00 menurun sebesar Rp 399.321.495.035,00 atau 9,30 persen dari APBD tahun anggaran 2020 sejumlah Rp 4.693.996.823.843. alokasi belanja daerah pada tahun anggaran 2021 sebesar Rp 4.516.148.844.342. Berkurang Rp 728.690.126.725, atau 16,14 persen dibandingkan dengan Belanja Daerah pada APBD tahun anggaran 2020 Rp 5.224.838.971.067,04. Sedangkan total penerimaan pembiayaan daerah pada Rancangan APBD Tahun Anggaran 2021 Rp 239.473.515.534, juga menurun Rp 311.368.631.690,04 atau 130,02 persen dibandingkan dengan APBD Murni Tahun Anggaran 2020.
Tahun – tahun era pandemi menjadi tahun yang sulit untuk pemda karena tekanan fiskal luar biasa, mungkin lebih berat dibandingkan tahun sebelum era pandemic. Penerimaan daerah, seperti pajak dan retribusi, tahun depan diperkirakan masih akan belum optimal. Padahal, penanganan masalah-masalah daerah, termasuk pandemi Covid-19, membutuhkan anggaran yang cukup besar. Terlebih penanganan pandemi semakin lama justru berbasis lokal dan komunitas. Satu sisi Pemda menghadapi situasi bahwa kepala daerah harus bertindak cepat, tetapi di sisi lain modalnya tidak terlalu besar karena keuangan yang belum kuat serta kewenangan kian tergerus seusai UU Cipta Kerja.
Jamak orang tahu, bahwa pemerintah pusat maupun daerah terpaksa melakukan refocusing anggaran untuk mengatasi Covid 19. Dampak dari pandemi Covid-19 sejak setahun silam, refocusing anggaran kembali dilakukan di tahun 2021. Refocusing lagi, APBD Provinsi Jambi bakal tersedot Rp 542 M. Sekitar 102 miliar yang harus di alokasikan untuk penanganan covid dan vaksin dan Ada juga kaitannya untuk PEN dan Jaringan Pengaman Sosial, nominalnya sekitar 398 milliar yang harus dialokasikan ke sana.
Situasi pandemi Covid-19 yang belum mereda serta kewenangan yang berkurang akibat Undang-Undang Cipta Kerja berpotensi membuat tantangan bagi kepala daerah pada 2021 semakin berat. Kepala daerah, terutama yang baru terpilih pada Pilkada 2020, harus berinovasi agar mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan di tengah keterbatasan.
Banyak kemungkinan program-program pembangunan akhirnya di tunda pelaksanaannya. Bisa jadi janji kampanye DUMISAKE juga akan kena dampak sulit di realisasikan karena membutuhkan anggaran hampir 300 milyar. Dan dari sisi anggaran ini, Haris - Sani praktisnya hanya "menguasai" anggaran 2022-2024 saja. Anggaran 2021 warisan gubernur sebelumnya.
