Negara-negara yang ikut dalam peluncuran tersebut adalah Australia, Brunei, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Mengendurnya intensitas AS di Timur Tengah sejak era Trump –lalu berlanjut Biden — inilah yang dimanfaatkan Beijing untuk memperluas proyek BRI di dunia Arab yang sangat penting bagi kerangka ekonomi global China.
Hubungan simbiosis mutualisme ini pada gilirannya memperdalam ikatan ekonomi antara China dan negara-negar Timur Tengah. Xi Jinping mengatakan Beijing akan terus mengimpor minyak dalam jumlah besar dari negara-negara Teluk Arab dan memperluas impor gas alam cair.
Kemesraan baru dengan China dianggap sebagai pergeseran haluan ke Asia, antara lain demi diversifikasi ekonomi yang masih ditopang sektor energi. Pada tingkat bilateral, China menjalin kemitraan strategis komprehensif dengan Aljazair dan Mesir pada 2014, dengan Arab Saudi (2016), dan UEA (2016).
China juga menjalin kemitraan strategis dengan Qatar (2014), Irak (2015), Maroko (2016), dan dengan Oman dan Kuwait (2018). Selanjutnya masih di tahun 2018, China menandatangani kerja sama yang masuk dalam Program Pengembangan Jalur Sutra Modern (OBOR) dengan 18 negara di kawasan Arab.
Wakil Menteri perdagangan China Qian Keming saat itu mengatakan dalam kerja sama tersebut sejumlah perusahaan China telah menandatangani kontrak proyek bernilai USD35,6 miliar atau setara Rp497,7 triliun dengan negara Arab.
Arab Saudi adalah pengekspor minyak mentah China. Mereka juga menyatakan tekad untuk mengembangkan kerja sama dan koordinasi di bidang pertahanan, serta terus bekerja sama dalam memerangi terorisme dan pendanaannya.
China juga merupakan negara yang haus akan energi dan Arab menyumbang 17 persen impor minyak kepada negara raksasa Asia itu pada 2021. Negara-negara Teluk juga merupakan surga bagi supply minyak secara internasional. Arab Saudi adalah pengekspor minyak mentah China dan bertekad mengembangkan kerja sama dan koordinasi di bidang pertahanan, serta terus bekerja sama dalam memerangi terorisme dan pendanaannya.
Media-media pemerintah Saudi melaporkan, kedua negara menandatangani kesepakatan senilai USD30 miliar selama kunjungan Xi. Dilaporkan Arab News, antara 2005-2020, Arab Saudi menerima porsi terbesar investasi China di Dunia Arab. Arab Saudi mendapatkan porsi 20,3 persen atau senilai USD196,9 miliar dari investasi China di kawasan tersebut.
Pada kunjungan terkini, Saudi-China akan menandatangani 20 perjanjian senilai 110 miliar riyal. Ada juga agenda harmonisasi Vision 2030 dari Arab Saudi dan Belt and Road Initiative dari China.
Kedua negara turut bersiap meluncurkan SABIC-Fujian Petrochemical Industrial Group, sebuah joint venture senilai 22,5 miliar riyal. SABIC yang dimiliki oleh Saudi Aramco memiliki 51 persen saham.
