China juga bertekad untuk membangun soft diplomacy-nya dengan menyebarkan pengajaran bahasa China ke dunia Arab.
Paul Sullivan, analis Timur Tengah dari Atlantic Council, mengatakan bahwa KTT China-Arab merupakan bagian dari upaya China menebar propaganda, dan citra yang baik ke dunia Arab. Namun upaya China mendorong agar AS menarik diri dari kawasan tersebut, diprediksi tetap tidak berhasil.
Banyak perusahaan AS berbisnis di Mesir, Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya, sementara Armada ke-5 AS dan Angkatan Udara AS masih ada di Arab Saudi. Tercatat sejumlah pangkalan AS di Saudi. Pangkalah itu antara lain Eskan Village Air Base, King Abdul Aziz Air Base, King Fahd Air Base, King Khalid Air Base, dan Riyadh Air Base.
Investasi China di dunia Arab hanya sebagian kecil dari keseluruhan investasi China di dunia, yang sebagian besar masih dan akan tetap berada di Asia. Dengan demikian, negara-negara Arab harus tetap waspada.
Mewaspadai jebakan utang China
Dalam beberapa tahun terakhir China banyak menerima kritik lantaran praktik pinjamannya ke negara lain yang malah membuat negara-negara tersebut kesulitan untuk membayar utang. Berdasarkan penelitian AidData, Djibouti, Laos, Zambia, dan Kirgistan memiliki utang ke China yang setara dengan setidaknya 20% dari PDB tahunan mereka.
Sebagian besar utang ke China terkait dengan proyek infrastruktur besar seperti jalan, kereta api dan pelabuhan, dan juga industri pertambangan dan energi, di bawah proyek BRI.
Negara-negara Afrika memiliki kesenjangan infrastruktur yang sangat besar untuk diatasi, dan dalam keadaan yang semakin sulit, China muncul dengan segudang pinjaman dan proyek pembangunannya. China menginvestasikan total sekitar USD145 miliar dari tahun 2000 hingga 2018, mengerjakan hampir 70 proyek per tahun sejak 2010. Sekitar 66% dari proyek ini berada di sektor transportasi atau energi, dan memberikan dorongan pembangunan bagi negara-negara Afrika.
Namun, seiring berjalannya waktu, negara-negara Afrika mulai merugi karena proyek China berhenti menghasilkan pendapatan tambahan. Perlahan impor menggantikan ekspor yang menyebabkan defisit perdagangan yang buruk di banyak negara Afrika.
Profesor di Haverford Ty Joplin mengatakan rekam jejak China dalam dunia pembangunan adalah segalanya. Oleh karena itu, negara-negara yang yang ditetapkan menerima pinjaman atau utang harus berhati-hati dengan apa yang mereka inginkan.
Benar hal itu membantu mendorong proyek infrastruktur, namun manfaat dari pinjaman itu seringkali mengalir kepada China dan perusahaan-perusahaan China, serta memperburuk perpecahan ekonomi dan bahkan dapat memenjarakan ke dalam perangkap utang.
Penerima pinjaman China di Timur Tengah seperti Jordania, Yaman, Suriah dan Libanon semuanya secara signifikan berisiko terjerumus dalam perangkap utang, yang berarti pinjaman-pinjaman itu lebih banyak menyebabkan keburukan daripada kebaikan. (*)
Sumber: Onlineindo.tv
