JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA – Model dan selebritas Ayu Aulia kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap identitas sosok kepala daerah berinisial “R” yang sebelumnya ramai diperbincangkan.
Setelah sempat membuat publik berspekulasi, Ayu akhirnya menyebut nama Ridwan Kamil, mantan Wali Kota Bandung sekaligus mantan Gubernur Jawa Barat, melalui unggahan Instagram Story pribadinya pada Kamis (14/5/2026).
BACA JUGA: Tol ke Pelabuhan Tanjung Carat Disiapkan, Hutama Karya Gandeng BKPM Perkuat Jalur Logistik Sumsel
“Ridwan Kamil, jelas yah,” tulis Ayu Aulia singkat dalam unggahannya.
Meski demikian, Ayu tidak menjelaskan lebih rinci terkait alasan dirinya menyebut nama tersebut.
Sebelumnya, Ayu mengaku pernah menjalin hubungan spesial dengan seorang kepala daerah berinisial “R” pada periode 2014 hingga 2015. Ia juga mengklaim komunikasi dan pertemuan dengan sosok tersebut masih berlangsung hingga tahun lalu.
BACA JUGA: Siap Layani 444 Jemaah, Petugas Kloter BTH 20 Jambi Siapkan Strategi Humanis
Dalam sejumlah unggahan di media sosial, Ayu membantah tudingan bahwa dirinya mencari sensasi atau memiliki motif tertentu dengan membongkar kisah tersebut ke publik. Ia menegaskan hanya ingin mendapatkan kejelasan hubungan tanpa meminta materi apa pun.
Ayu bahkan mengaku masih menyimpan sejumlah bukti komunikasi hingga rekaman pertemuan yang diklaim berkaitan dengan hubungan mereka. Ia juga menyinggung momen Hari Valentine tahun lalu yang disebut masih dijalani bersama.
Tak hanya itu, Ayu turut menyinggung dugaan pertemuan di sebuah hotel mewah di Jakarta. Pernyataan tersebut memicu spekulasi luas di media sosial terkait identitas sosok “R”.
BACA JUGA: Hujan Deras Picu Longsor di Bungo, Dua Bocah Tewas Tertimbun
Dalam keterangannya, Ayu juga mengungkap pengalaman pribadi yang disebut berdampak besar terhadap kehidupannya.
“Tidak semua luka berdarah di luar. Gimana kabar Pak Bupati inisial R? Masih bisa happy di atas penderitaanku?” tulis Ayu.
Ia juga mengisyaratkan rasa kecewa karena merasa dicampakkan oleh sosok yang dimaksud.
“Kamu boleh menyebutku masa lalu di depan publik. Tapi hati nuranimu tahu, tahun lalu kamu masih datang, mengajak bertemu, makan bersama, bahkan menunjukkan perhatian yang tidak mungkin dilakukan seseorang kepada masa lalu yang benar-benar sudah selesai,” ujarnya.
