iklan JIWA BISNIS: Rudianto, saat berada di Restoran Bintang Cafe di kawasan Victoria Park, East Perth, Australia. Bintang Cafe menjadi salah satu jujukan WNI yang tinggal di Perth.
JIWA BISNIS: Rudianto, saat berada di Restoran Bintang Cafe di kawasan Victoria Park, East Perth, Australia. Bintang Cafe menjadi salah satu jujukan WNI yang tinggal di Perth.

MENEKUNI bisnis kuliner di luar negeri sepertinya cukup menjanjikan. Rudianto misalnya. Warga Sampang Madura ini, berhasil mengelola bisnis kuliner di Perth, kemudian sukses membangun hotel berbintang di Lombok.

Pirma Satria, Perth

PERTH adalah salah satu kota besar  di Negeri Kanguru, Australia. Berlokasi di Australia Barat, Perth sering juga disebut sebagai kota paling terisolir di dunia.

Pasalnya,  negara bagian ini terpisah ribuan kilo meter dari negara-negara bagian di Australia lainnya, seperti Syidney (3.291 km), Adelaide (2.104 km), Brisbane (3.604 km) dan Canberra (3.106 km).

Dibandingkan dengan beberapa kota besar itu, Perth justru lebih dekat ke Jakarta yakni 3.002 KM dan ke Denpasar Bali 2.584 KM. Karena jarak yang dekat ke Denpasar itu, warga Perth lebih memilih berlibur ke Bali ketimbang harus terbang ke Syidney atau ke Melbourne.

Begitu pula sebaliknya, orang Indonesia juga banyak yang bermukim di Perth, kuliah dan bekerja di Perth bertahun-tahun lamanya, tetapi tetap memegang paspor Indonesia.

Satu di antara warga Indonesia yang bermukim dan bekeja di Perth adalah Rudianto. Lelaki kelahiran Sampang, Madura 16 Juni 1970 silam ini, sudah belasan tahun menetap di Perth. Bahkan, seluruh keluarganya ia boyong ke Perth.      

Pertemuan koran ini dengan Rudianto terjadi secara kebetulan. Saat berada di  Baileys Hotel yang beralamat di 150 Bennett St, East Perth WA 6004, Australia,  persis di depan Wellington Square.

Saat itu, Mas Rudi, begitu biasa dia disapa, mengantar pesanan nasi goreng dan nasi minyak untuk tamu rombongan guru favorit Jambi Ekspres yang pekan lalu studi banding di Perth.

Pakaiannya biasa-biasa saja, kaos oblong coklat berpadu celana kain warna senada. Sekilas, tidak ada yang menyangka jika dia adalah seorang enterpreneur sukses. Karena sangat jarang ada di Indonesia owner mengantar sendiri pesanan konsumennya menggunakan mini van. Dia begitu low profile dan bersahaja.

Saya asli Sampang Madura, sementara  istri asli Solo. Kami tinggal di Perth, ujar Rudianto membuka pembicaraan dengan koran ini pekan lalu di Wellington Square, Perth.

Di Perth, Rudianto tinggal bersama dua anaknya yang masih kecil. Satu berumur 8 tahun dan yang paling kecil berumur 6 tahun. Semuanya laki-laki.

Mereka semua bersekolah di sini dengan status WNI, jelasnya.

Rudianto menuturkan, pertama kali ia ke Perth untuk bersekolah. Pada tahun 2001, ia lulus dari Tafe Bentley as Commercial Cookery. Kemudian melanjutkan studi di Alexander College dengan mengambil jurusan Bisnis Management dan tamat pada tahun 2003.

Belum puas sampai di situ, ia kemudian melanjutkan studi lagi di Edith Cowan University mengambil jurusan Manajemen Hotel dan Marketing kemudian lulus pada tahun 2005 dengan titel B.Hosp (Bachelor of Hospitality) yang kalah dalam Bahasa Indonesia berarti Sarjana Manajemen Perhotelan.

Kalau istri saya sarjana perhotelan Trisakti Jakarta, katanya.

Berbekal pengetahuan bisnis manajemen perhotelan dan marketing yang ia dapat di bangku kuliah itulah yang membuat Rudianto optimis untuk mencoba berbisnis di Australia.

Ia kemudian merintis bisnis kuliner dengan membuka Restoran Bintang Cafe di kawasan Victoria Park. Sebuah restoran yang khusus menyediakan makanan halal khas Indonesia. Mulai dari sate, nasi goreng, soto hingga rendang tersedia di tempat ini. Komplitnya, seluruh masakan nusantara ada di Bintang Cafe.

Wartawan jambiupdate.co  juga berkesempatan mengunjungi dan mencicipi makanan di Bintang Cafe di Victoria Park. Informasi yang berhasil dihimpun penulis, Victoria Park berada di pinggiran selatan Perth, Australia Barat .

Wilayah pemerintahannya daerahnya adalah Kota Victoria Park .  Victoria Park adalah pintu gerbang timur ke distrik pusat bisnis Perth, menjadi persimpangan tiga jalan arteri timur asli yakni Albany Highway , Canning Highway , Great Eastern Highway , dan Causeway Bridge. Causeway menghubungkan Victoria Park ke kota yang terletak 3 km ke arah barat laut. Oleh karena itu, tempat ini sangat strategis sebagai tempat bisnis.

Restoran Bintang Cafe memang tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja saja. Sama halnya dengan cafe-cafe di Indonesia, selasar bagian depan juga ditarok kursi dan meja yang bisa digunakan oleh pelanggan untuk  menyantap hidangan.

Kawasan ini sepertinya menjadi tempat kuliner khusus makanan Asia Tenggara. Pasalnya, selain Bintang Cafe, dalam satu komplek juga ada restoran khusus dari negar-negara tetangga Indonesia, seperti dari Thailand dan  Malaysia.

Jadilah, Bintang Cafe biaa menjadi pelepas dahaga warga Indonesia di Perth yang merindukan makanan halal khas Indonesia. Bisnis kuliner saya (bintang cafe, red) dimulai tahun 2005, Alhamdulillah berlangsung sampai sekarang, ujar Rudianto.

Penulis saat berada Victoria Park, East Perth, Western Ausatralia

Menurut Rudianto, dari pertama buka, dirinya  sangat bersyukur karena dapat kepercayaan di hati masyarakat Indonesia di Perth. Segment kami 60 % masarakat Indonesia dan 40 % mix. Sampai saat ini masih mendapat tempat di hati masyarakan Indonesia di Perth, katanya.

Bisnis dimana saja, katanya, pada prinsipnya sama yaitu memenangkan persaingan yang ada. Untuk bisnis di Perth,  secara hukum tidak ada masalah bahkan relative mudah, namun utuk memanage daily aktivitas secara operational sangat berat. Seperti sewa tempat  di daerah saya Victoria Park berkisar Rp 35 juta sampai Rp 150 juta perbulan, jelasnya.

Lantas bagaimana dengan gaji karyawan? Rudi menjelaskan, untuk gaji tukang masak saja berkisar Rp 250 ribu perjam (Sebagian besar pekerja di Perth digaji perjam). Dan di hari Minggu atau publik holiday bisa naik menjadi Rp 500 ribu perjam per orang dan 10 % di atas itu,  uang dana pensiun karyawan juga harus dibayarkan.

Itu sebagian kecil, belum lagi PPN, pajak  negara dan pajak pribadi. Namun demikian, jangan takut berspekulasi. Setiap bisnis tentu tidak ada yang langsung besar, semua harus dirintis dari awal. Asal serius, Insya Allah akan membuahkan hasil, jelasnya.

Tidak hanya WNI  yang tinggal di Perth serta traveler asal Indonesia saja yang sering ke Bintang Cafe, KJRI Perth pun selalu memesan makanan di Bintang Cafe kalau ada acara-acara resmi. Ini baru saja mengantar pesanan KJRI, ada tamu PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) dari Indonesia, jelasnya.

Sukses membuka Bintang Cafe, Rudianto kemudian mencoba mengembangkan bisnis yang lebih besar lagi. Ia mendirikan sebuah hotel berbintang di Lombok. 

Diva Lombok Hotel dan Villas namanya. Berlokasi di Jalan Raya Senggigi, Klui 2, Pemenang, Lombok Barat, NTB yang dibangun dengan gaya minimalis modern dan artistik. Hotel ini menjadi salah satu jujukan traveler lokal dan manca negara sepanjang tahun. Lokasinya yang strategis dengan tarifnya yang ternagkau, menjadi nilai plus tersendiri sehingga hotel berbintang ini selalu terisi.

Diva Lombok Reort adalah bagian perencanaan bisnis jangka panjang. Saya berinvestasi perhotelan di Lombok karena secara pendapatan per kapita Indonesia sudah memasuki era dimana liburan dan makan diluar sudah menjadi bagian pokok untuk middle class (baca kelas menengah, red), jelasnya.

Untuk mengontrol bisnis tersebut, tutur Rudi, ia percayakan kepada tenaga pofesional di bidangnya, sehingga manajemen hotel juga berjalan secara profesional.

Akan sangat susah mengelola bisnis jika dipercayakapan kepada keluarga sendiri. Makanya Saya menyerahkan pengelolaan hotel kepada tenaga profesional, katanya.

Namun demikian, setiap satu bulan sekali Rudianto selalu pulang ke Indonesia, baik ke Lombok maupun ke Sampang.

Kalau nggak sempat sebulan sekali, paling lama 3 bulan sekali Saya pasti pulang ke Indonesia, pungkasnya. (pas) 

  

 

 

 


Berita Terkait



add images