iklan Ilustrasi
Ilustrasi
Sementara itu, Konsul Haji KJRI di Jeddah Endang Jumali menjelaskan, hingga kemarin belum ada statemen resmi dari otoritas Saudi soal kepastian haji. Dia mengatakan, sebaiknya masyarakat menunggu informasi resmi yang disampaikan pemerintah Saudi.

Lebih lanjut, Endang menuturkan, dampak pelonggaran protokol kesehatan oleh pemerintah Saudi sudah terlihat. Baik itu di kompleks Masjidilharam, Kota Makkah secara umum, maupun kota-kota di Saudi lainnya.

Meskipun sudah ada pelonggaran, tidak berarti para jemaah umrah di Kota Makkah langsung berkeliaran keluar hotel untuk berjalan-jalan.

Endang mengatakan, selama di Masjidilharam, jemaah tetap harus mengenakan masker. ’’Karena masih dalam konteks ruangan tertutup. Bukan tempat umum dan terbuka,’’ jelasnya. Kemudian, pertokoan di seputaran Masjidilharam juga sudah kembali beroperasi.

Dari dalam negeri, pemerintah kembali menerapkan pelonggaran-pelonggaran. Di antaranya, karantina untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN), termasuk jemaah umrah, dikepras tinggal sehari. Zaki mengatakan, aturan itu disambut baik oleh jemaah karena bisa membuat ongkos umrah menjadi lebih hemat.

’’Ini langkah tepat pemerintah,’’ ujarnya. Zaki menambahkan, pemerintah Indonesia akhirnya mengikuti upaya sejumlah negara seperti Saudi, Amerika Serikat, dan Australia yang lebih membuka diri dan ’’berdamai’’ dengan Covid-19.

Dia mengatakan, tren kasus harian Covid-19 di Indonesia mulai melandai. Dari puncaknya pada pertengahan Februari yang sempat 60 ribuan kasus sehari, sekarang tinggal belasan ribu kasus harian. Kondisi itu sama seperti di Saudi.

Menurut Zaki, di Arab Saudi puncak varian Omicron terjadi pada pertengahan Januari lalu. Saat itu kasus harian di Saudi naik hingga 6.000-an kasus. Kemudian sekarang melandai di kisaran 300 kasus harian.(jpc/fajar)


Sumber: www.fajar.co.id

Berita Terkait



add images