JAMBIUPDATE.CO, SUNGAI PENUH – Prosesi penurunan benda pusaka berlangsung khidmat di Rumah Gedang Rio Jayo sebagai pembuka rangkaian Kenduri Sko Enam Luhah, Rabu (1/7/2026). Tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Rumah Gedang Rio Jayo yang menjadi pusat kegiatan adat kembali difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka sekaligus lokasi pelaksanaan berbagai prosesi sakral.
BACA JUGA: Beruang Masuk Permukiman Warga di Sanggaran Agung Kerinci, Rusak Rumah dan Bikin Warga Resah
Dalam prosesi tersebut, ninik mamak, teganai, serta masyarakat Luhah Rio Jayo berkumpul untuk mengikuti penurunan dan pembersihan benda pusaka. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ninik Mamak Rio Jayo, Rio Anshori, mengatakan seluruh unsur adat terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari Rio Jayo tiga buah perut, Depati tiga buah perut, dunsanak batino tiga buah perut, hingga para teganai.
BACA JUGA: Bea Cukai dan BNN Bongkar Modus Penyelundupan 3,37 Ton Ganja Thailand dalam Koper dan Matras Lateks
"Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Keterlibatan semua unsur adat mencerminkan kebersamaan dalam menjaga warisan leluhur," ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi penyucian benda pusaka yang dilaksanakan pada Kamis sore. Tahapan tersebut merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Kenduri Sko.
"Insya Allah sore ini kita lanjutkan dengan penyucian pusaka bersama seluruh komponen masyarakat Luhah Rio Jayo," katanya.
Usai prosesi penyucian, masyarakat juga akan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah, fungsi, dan makna dari setiap benda pusaka yang dimiliki oleh Luhah Rio Jayo.
BACA JUGA: Sidang Korupsi PDAM Tirta Mayang, Kuasa Hukum Rusdi Wahab Nilai Jaksa Belum Jawab Pokok Eksepsi
Menariknya, kegiatan ini terbuka untuk umum. Masyarakat, akademisi, hingga peneliti dipersilakan hadir untuk mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap benda pusaka sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
"Kami terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui atau mengkaji benda pusaka ini. Ini bagian dari upaya pelestarian budaya," tambah Rio Anshori.
Melalui Kenduri Sko Enam Luhah, masyarakat tidak hanya diajak menyaksikan prosesi adat, tetapi juga memahami makna yang terkandung di balik setiap tahapan ritual. Tradisi ini menjadi momentum penting untuk menjaga identitas budaya, memperkuat hubungan sosial, serta menanamkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.(hdp)
